Archive for December, 2005

so called….life…

Mungkin
aku harus dengan ikhlas menyadari bahwa tak ada satu pun yang benar-benar ku
miliki utuh. Bahkan hidup, kebebasan, dan jiwa. Secuil demi secuil, dari waktu
ke waktu, mau atau tidak, setiap bagian dari diriku mulai ku persembahkan kepada
yang lain. Hingga kemudian waktu habis, tidak ada bagian dari diriku lagi yang
tersisa, dirampas cungkilan-cungkilanm itu. Sakit dan pasrah melaknatkan
kehendak. Dan bisuku berteriak, menertawakan kebodohanku dalam memakna. Bisuku
adalah teriakku. Ia sering hadir, bergelut di dalam dan menyeringai senang
ketika menang. Ia teman, dan musuhku. Ia hawaku. Ia alter yang menggung. Kata
Adam, ia harus dilenyapkan. Ia tidak pantas, ia bodoh, ia kanak-kanak. Tapi
siapapun tau, ia akan tetap ada, hanya harus belajar untuk berdamai. Melakukan
apa yang seharusnya ia lakukan. Bukan hanya ingin.

Diri
ini, mungkin sesekali harus istirahat sejenak dari menjalani hidup yang penuh
makna. Meski langitku adalah seorang perempuan yang tidak terbatas, manusia
yang terbataskah aku?

020404

Aku
berputar, berbalik, mencari masa lalu. Dimana pengggalan-penggalan itu terekam?
Aku menoleh, karena aku tidak bias menafikkan mereka sama sekali. Aku
membutuhkan mereka dalam eksistensinya yang terperangkap pasir waktu.
Keberadaaannnya, menyatakan keberadaanku, saat ini. Dan detik-detik itu, mereka
terus mengejarku. Kasian, mereka tetap mengejar jikalau aku diam. Mungkin
mereka ingin diam juga sejenak, istirahat. Mereka tua, dan lelah.

020404

Things
seems so right when they didn’t. maybe you’re right, I have no willing. But I
have all the strength inside to love. I have you, as life. Where it’s only me
exist. And you.

150404

Dan
tak juga matahari pudar, meski tua ia.

Tak
juga hujan berhenti, meski ia membasuh bumi, melenyapkan jejak, dan aku
menghapus air mata.

Kita
ada dalam dunia, jauh sayang…

Di
jalan, suaramu hanya tinggal sayup terdengar, genggaman tangan meregang,
kemudia hilang.

Hanya
saja, aku tetap diam, dan terlena dalam kehilangan.

Kureguk
sakit, lalu kuinginkan lagi.

Tak
ada lagi yang sama. Tak ada maaf, nurani, hati bahkan sesal. Hanya diam,
dingin, beku.

Cintaku
tinggal, keras, tanpa kompromi. Mati terbunuh nanti.

Mungkin
aku ingin sayang, ada hidupmu dalam kepalan.

Namun
seorang perempuan datang merajam ingin.

Ya,
atau tidak sama sekali.

150404

Dan
muram menjelma, menemani hari-hariku

Memanjati
dinding-dinding pualam penuh

Kenangan.

Mungkin
juga ku rindu, semua maki dan cercaan

dalam
kehampaan

tak
ada lagi yang berharap tinggal

tapi
selesai.

160404

Dan
aku beranjak pergi, mulai menggores semua dosa, seperti semua orang-orang lain.

Dia
hilang, ketika satu minggu penuh.

Ku
pikir mereka akan terbiasa, melanjutkan hidup, menelan pahit,

Mengenang
kebisuan kalau tidak caci maki, menanggung malu, lidah kelu, terbiasa.

Semoga
Cuma tinggal masa lalu yang mungkin nanti diungkit-ungkit lagi.

Hidup
itu, rusuh.

Indah
akan teringat sedikit-sedikit, dengan ditaburi bercak hitam dimana-mana.

Itu
bukan debu, tapi batu.

Maka
pergilah ia, meninggalkan semua yang seharusnya ia ajak ikut serta.

Benciku
dulu meradang, terbuka gadang, meninggalkan bekas, tertutup, busuk di dalam.

Aku
bisu, kelu, terombang-ambing tanpa bisa berbuat apa-apa. Haruskah mereka?

Ini
bukan dunia, dimana aku raja yang akan selalu diselamatkan tuhan

Tapi
mereka bidadari, penuh derita, dan senyuman. Tanpa ksatria.

160404

Seandainya
bisa dulu, aku tau apa sekarang terjadi,

Aku
menawar……. maka tak ada sekarang dunia yang menuntut kejantanan.

Semua
bisa menari meliuk mengikuti alam di lantai licin dengan dinding penuh kaca
jernih.

Cantik,
indah, hiudp….

Sebuah
atau sejuta lagu untuk semua

Kuasa
adalah nurani, bukan kelamin.

160404

Aku
ingin kembali, dimana putih masih bersih.

Dimana
ia, masih ada. Dimana aku menaikinya, merangkak..

Susu
dan bubur, roti tawar kukus.

Aku
rindu.

160404

Mungkin
takkan lagi terasa dingin,

Di
jalan-jalan panjang becek karena hujan

lama
mengguyur tanah

kusuruh
pergi saja khayal kosong tanpa

ujung
yang datang tanpa henti.

Merasuki

Membunuh

Ku
tunggu malam-malam datang, kini

Dengan
bintang, air, pelukan, dan damai.

260404

Mungkin
senja ini pula yang datang

Dengan
segala pintaku

Kuning,
temaram,damai

Hingga
malam jatuh, menyihir tidur

Kota
di bawah gemerlap bintangnya datang,

Dengan
segala pintaku.

260404

*across
the universe>> no surprises>>….

No comment »

feminisme tidak sama dengan barat

Feminisme: Benarkah Hanya Sebuah Gerakan “Barat”?

Ada yang membuat semangat belajar saya dalam bidang keperempuanan naik beberapa waktu ke belakang. Pasalnya, “pasaran” lagi nai, heheh… Feminisme sedang ngepop dan sepertinya menarik bagi semua orang (bukan cuma perempuan tapi juga laki-laki), meskipun seringkali feminisme dicap dengan tuduhan yang tidak-tidak.

Dalam asumsi umum, feminisme sering dianggap sebagai sebuah gerakan “barat”, anti laki-laki, menentang agama, pemberontakan terhadap pranata sosial yang ada, bahkan lesbian (meski memang cabang dari feminisme radikal menganjurkan ini). Ada juga yang suka salah tafsir sehingga salah ucap dengan menyama-nyamakan feminis dengan feminin (hmmmfff). Hal-hal itu memberikan saya perasaan yang rawan dan menimbulkan self-defense mechanism dalam diri saya, kebanyakan tetap tinggal di hati, karena salah-salah nanti dianggap rese oleh sosial karena nyap-nyap serius (bingung juga, mengapa feminisme dianggap serius?) dikarenakan celetukan (saja , kata mereka). Mengapa? Karena kemudian asumsi-asumsi negatif bagi feminisme yang mengkalim diri sebagai gerakan pembebasan perempuan akan menimbulkan antipati dari khalayak luas bagi gerakan feminisme itu sendiri.

Yang harus diperhatikan disini adalah bahwa feminisme, seperti yang diungkapkan Mansour Fakih dalam Analisis Gender dan Transformasi Sosial , layaknya aliran pemikiran dan gerakan lainnya, bukan merupakan suatu pemikiran atau aliran tunggal, melainkan terdiri atas pelbagai ideologi, paradigma serta teori yang dipakai oleh mereka masing-masing. Ia bukanlah ideologi monolitik, dan setiap aliran pemikirannya berkonteks tempat dan waktu. Namun semuanya berangkat dari asumsi yang sama; ketertindasan perempuan dan kemudian bergerak menuju satu: pembebasan perempuan.

Pada awalnya, saya tidak tahu bahwa buku Simone De Beauvoir The Second Sex, yang saya anggap telah mengantarkan saya untuk terus mendalami feminisme, adalah paparan panjang mengenai aliran feminisme eksistensialis. Buku ini, menurut Rosemarie Putnam Tong dalam Feminist Thought, merupakan salah satu teks teoritis kunci dari feminisme abad 20. Beauvoir menekankan pentingnya eksistensi perempuan untuk membebaskan dirinya.

Proses dialektika kemudian terjadi seiring pertemuan dengan “feminisme-feminisme” yang lain. Dialektika ini pula yang lalu menuimpulkan bahwa proses transedensi untuk menciptakan eksistensi penuh-nya Beauvoir tidaklah cukup. Mungkin ada yang langsung mengatakan ini gegabah atau ceroboh. Tapi jujur, saya tidak melihat solusi yang konkret. Betul bahwa ia telah memberikan sumbangan banyak pada perkembangan feminisme, namun sekali lagi, saya tidak menemui solusi konkret bagi kompleksitas permasalahan perempuan.

Membahas Beauvoir jujur saja membuat saya terpancing untuk memberikan perbandingan pemikirannya dengan berbagai aliran feminisme yang lain. Tapi kita cukupkan saja. Hal yang selanjutnya menarik perhatian saya dan saya anggap penting adalah masalah akar penindasan perempuan itu sendiri karena kesalahan dalam melihat konteks akar permasalahan akan mengakibatkan kontraproduktif dalam praktik perjuangan. Dalam hal ini penjelasan paling komprehensif saya temui dalam analisis kelas yang diberikan oleh feminisme sosialis. Friedrich Engels dalam The Origin of the Family, Private Property and the State adalah yang pertama-tama memberikan gambaran tentang ini. Ia menjelaskan bahwa ketertindasan perempuan tidak lantas terjadi begitu saja, tidak juga terjadi karena perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki seperti yang dipercaya oleh feminisme radikal. Budaya patriarki (yang diabaikan oleh feminisme liberal) yang meminggirkan perempuan mulanya muncul dari sistem kepemilikan pribadi yang kemudian melahirkan kelas-kelas dalam masyarakat. Ini adalah asal muasal perbudakan perempuan, dimana peran perempuan yang tadinya memiliki peran yang sama dengan laki-laki dalam perekonomian keluarga menciut menjadi peran domestik (dapur sumur kasur).

Jadi anggapan bahwa penindasan dan penomorduaan perempuan adalah takdir karena memang seperti itulah seharusnya adalah ahistoris, ceroboh dan malas. Banyak penelitian yang dilakukan oleh para antropolog yang membuktikan sebaliknya. Dalam masyarakat Indian Iroquis, misalnya, kedudukan perempuan dan laki-laki benar-benar setara. Bahkan, semua laki-laki dan perempuan dewasa otomatis menjadi anggota dari Dewan Suku, yang berhak memilih dan mencopot ketua suku. Jabatan ketua suku dalam masyarakat Indian Iroquis tidaklah diwariskan, melainkan merupakan penunjukan dari warga suku melalui sebuah pemilihan langsung yang melibatkan semua laki-laki dan perempuan secara setara. Keadaan ini berlangsung sampai jauh ke abad ke 19. Dalam masyarakat Jermania, ketika mereka masih mengembara di luar perbatasan dengan Romawi, berlaku juga keadaan yang sama. Kaum perempuan mereka memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan kaum laki-lakinya. Peran yang mereka ambil dalam pengambilan keputusanpun setara karena setiap perempuan dewasa adalah juga anggota dari Dewan Suku. Ken Budha Kusumandaru memberikan contoh-contoh lain dalam tulisannya Asal usul Penindasan Perempuan.

Saya ini pemula dalam hal begini-beginian. Pembaca sekalian pastilah lebih banyak tau daripada saya. Pembahasan sekilas mengenai akar ketertindasan perempuan diatas sebenarnya tidak cukup memadai untuk menerangkan detail prosesnya. Tapi apa yang patut dicatat adalah bahwa masalah penindasan perempuan terjadi begitu saja, tidak pula berdiri sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan dalam sistem yang saling berkaitan. Maka perjuangannya pun lalu harus tidak sektoral. Ia harus bersatu bersama dengan perjuangan rakyat tertindas lainnya. Bertepatan dengan hari perempuan internasional 8 Maret lalu, gembiralah hati saya. Pada masa-masa itu dan setelahnya, banyak aksi-aksi yang membawa nama perempuan untuk memprotes kebijakan pemerintahan SBY-Kalla dalam menaikkan harga BBM. Ini adalah salah satu contoh, bahwa perjuangan perempuan tidak sektoral, tidak lantas hanya memperjuangkan isu-isu keperempuanan, namun juga aktif dalam perjuangan umat manusia secara universal, misalnya lingkungan hidup, diskriminasi ras, atau neoliberal. Dengan cara ini kita akan bergerak terus menuju pembebasan sejati perempuan…

in memorial of emeng: masih tetap berjuang, kawan…

*prnah dmuat Diurna, awal 2005 kalo ga salah

No comment »

seks dan seksualitas

Seksualitas sptnya dpt perhatian juga di sini..

Mksd gw, gini. ..

Pada waktu kita menyebut kata seks, maka artinya berhenti pada kelamin. Male or female…tapi seksualitas jauh lebih luas dari itu..seksualitas mencakup making sex, ya. nah, setelah itu … menurut gw, hubungan sex itu kemudian tidak berhenti sebagai hubungan badan, yang sifatnya bilogis tok…. Pada waktu hubungan itu terjadi, meski awalnya cuma sex doang, maka hubungan itu kemudian memang dipengaruhi konstruk sosial dan budaya…. Emang bener kalo kemudian manusia yang bikin rumit, atau masuk ke aspek gender. Ini dialektika, bukan hanya sekedar mencampuradukkan… Ya, pertamanya manusia yang menciptakan, tapi gw setuju sama Berger, ciptaan itu memang kemudian memiliki aksi balik terhadap penciptanya. maka kemudian semua dialektika itu menyertai definisi seksualitas itu…. Definisi, menurut gw, selalu ga bisa dilepaskan dari konteks dan kontsruk…..(analogi ini yang gw dapet juga waktu melihat hubungan yang lain2, semisal hub. produksi, bukan Cuma hub majikan-buruh, alam-manusia sbg pengguna, tapi selalu ada hubungan kekuasaan (dominasi dan subordinasi) yang harus diihat)

jadiselalu ada konstruk sosial yang menyertai, dan konteks yang mendefinisikan hub itu..

Ini maksud pernyataan gw yang bilang kalo hubungan seksualitas itu dibentuk oleh berbagai hubungan sosial. Jadi rasanya naïf kalo kita melihat bahwa seks dan seksuaitas adalah suatu hal yang otonom, alami, dan berdiri sendiri.

Seks dan seksualitas itu menurut gw adalah sebuah kontruksi. Maka, ketika kita kita bicara seks dan seksualitas, maka kita juga ngomongin wacana kekuasaan yang ikut mengkonstruksikan maknanya.

Jadi memang kompleks…

(dan subjektif gw sih, menolak kalo hubungan seks itu cm sekedar hubungan badan/biologis… ini mekanistis sekali. Seks juga sarana berkomunikasi dan berekspresi,diantaranya…Kita manusia dengan emosi, dengan taste…..use it! )

W5_1

ini Cuma sekedar referensi yang gw dapat untuk sekedar dijadikan bahan pertimbangan (u can have ur

own, still). Dari banyak pendekatan yang mencoba mendefinsikan seksualitas, yang paling simple menurut gw yang pernah diajukan oleh Julia I. Suryakusuma. Dia membagi seksualitas ke dalam dua pendekatan, esensialis dan non-esensiais. Yang esensialis ini, mereduksi seksualitas sekadar dorongan alamiah-biologis yang hadir sebelum adanya kehidupan sosial, cenderung maskulin dan heteroseksual. (ini pendapat mainstream sampai saat ini, gw pikir, spt yang dibiang hilman, bumie, dan Gomez, betul ga?)

yang kedua, non-esensialis beranggapan seksualitas dipengaruhi oleh suatu proses pembentukan sosial budaya yang melampaui aspek-aspek pembentukan lain dari perilaku manusia. Pendekatan ini beranggapan bahwa seksualitas adalah hasil bentukan (konstruksi) sosial budaya. Gw ada di sekitar sini, sepertinya. Terutama karena gw memang berpendapat bahwa sesuatu itu selalu bergerak, tidak statis, tidak bisa berdiri sendiri, karena ia merupakan bagian dari sebuah kesatuan yang lebih besar, dan tidak juga tercipta dengan sendirinya dan abrakadabra….

Mengenai analogi, bahkan ada yang bilang analoginya gini :”seperti halnya orang berambut lurus ada juga yang berambut keriting” lebih gamblang kan

?(jadi yang diperhitungkan dsni cuma faktor genetik). Padahal, yang melatarbelakangi itu banyak, dan sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan, diantaranya sih, gen, pola asuh, lingkungan, hormon, dsb…Kalo tangan analoginya, menurut gw bisa menjelaskan dengan lebih kompleks. dia sama berfungsi sbg tangan, tapi Orang-orang kebanyakan make tangan kanan krn diprngaruhi konstruk sosial jg (krn lbh sopan blablabla), nah orang2 yang pake tangan kiri

kan

berarti keluar dari kostruk itu….ga ikut mayoritas….sama halnya dengan preferensi seksual seseorang…mayoritas heteroseksual, tapi ada orang yang memilih untuk tidak menjadi mayoritas dengan menjadi homoseksual.

Mslh sperma, gw juga nanyain ini ke budhi rajab. kenapa agama melarang? Jawabnya sm kayak hilman… krn menurut agama , fungsi hubungan seks itu untuk meneruskan keturunan….jadi gw tanya ke dia…kan

sekarang udah ada bank sperma? Dia jawab gini: dulu

kan

belum ada yang namanya bank sperma, beda dengan sekarang. Tapi yang namanya hukum/doktrin agama sampai sekarang tidak pernah dirubah. Ayat2nya tidak berubah…

Dan mengenai biseksual, Frued yang bilang kalo pada awalnya manusia itu biseksual. Tapi seiring dengan perkembangan jiwanya, orientasi seks akan berubah menjadi heteroseksual. Berhasil atau tidak mereka mengubah orientasi seks tersebut bergantung pada daya tarik mana yang lebih kuat….itu masuk akal.. meski menurut gw kita gak harus ikut2an Freud yang cuma bilang heteroseksual yang normal. Freud sih bahkan bilang kalo perempuan tercipta karena kesalahan kromosom…sialan…

Pronto!senang bisa mendapatkan orang2 seperti kalian yang bisa mengapresiasikan segala sesuatu… thanx

- gomez hebat lu bisa merasakan kehati2an gw dalam tulisan itu…:)… postin lg dong yg kmrn..

Comments (2) »

dilema lesbian

masalah in-depth reporting ttg lesbian bikin gw on line tiap hari last 2 week. Awalnya gw sempetin dan bela2in malem2 so I can catch some of in some room. Oh, yeah. I was kicked, hahah…

nah, tema ini gw ajuin sbnrnya krn I do have the positives thoughts ‘bout it. Really. Thers no way we can judge anything by this kind orientation.

Secara sekilas, mengenai pilihan orientasi tidak jauh berbeda dengan kaum gay. Gen berpengaruh (tidak dalam kapasitas besar, menurut beberapa ahli). Karena semua orang potensial untuk menjadi seorang homoseks atau tidak. Tapi kemudian, dari beberapa orang yang gw temuin ini, potensi-potensi ini memang menemukan manifest-nya dari lingkungan.. it becomes trend, somehow..

Gw Cuma bertemu satu orang yang men-declare-kan dirinya sebagai seorang lesbian (gw harus mencari lebih banyak, tentunya). Ini jelas patut dihargai karena ia hidup di lingkungan yang melarang perempuan berbicara lantang dan terbuka mengenai orientasi seksualnya…

inilah point yang membuat masalah lesbian ini tampak more complicated dibandingkan gay…

karena lesbian ini perempuan. stereotype yang melingkupi perempuan ini terlalu banyak. Bikin gerah, bikin tidak bisa bergerak. Ia dididik keluarga dan dibentuk lingkungan sosial untuk lebih menutup diri. Agama juga tidak banyak membantu. Karena perilaku yang sama, dosa bagi perempuan akan lebih besar, dibandingkan laki2.

maka jangankan lesbian, bicara mengenai seksualitasnya sendiri pun(meskipun ia heteroseks), perempuan tabu. Tabu ini, ibarat barang yang kotor, aib, kebusukan yang sudah selayaknya disimpan dan disembunyikan. Karena beranggapan tak seorang pun akan membukanya, maka dikatakan bahwa tabu adalah tradisi, kultur yang tak bisa disepelekan meskipun berakibat buruk. Ribuan tabu yang meneror, di antaranya terdiri dari mitos-mitos, tidak dilahirkan pada zaman purba. Ia dilahirkan hari ini untuk mengungkung dan menisbikan kemanusiawian manusia, membuat orang tak jadi dirinya sendiri, bahkan lebih jauh, menjadi munafik. Ini yang dibilang Berger sebagai aksi kembali dari apa yang diciptakan sendiri oleh manusia.

Apalagi, seksualitas terlalu diartikan sebagai isu biologis semata. Kelamin laki-laki dan perempuan (heteroseks). Padahal seksualitas jelas lebih jauh dari itu. Kompleksitasnya, menurut gw bahkan mencakup emosi, sifat dan watak pribadi (kepribadian), juga sikap dan watak sosial, serta orientasi seksual tadi.

Nah, jika dihubungkan dengan tabu, maka, jika masalah seksualitas ini begitu ditabukan bagi perempuan, maka kita juga ikut menabukan berbagai hubungan sosial yang ikut membentuk hubungan seksualitas, serta menabukan juga tatanan sosial kita yang diskriminatif dan eksploitatif terhadap perempuan.

Hal2 yang begituan yang bikin komunitas lesbian cenderung lebih tertutup (dan menutup diri) juga terlihat eksklusif. Padahal, selain lingkungan sosial, ga ada lagi yang menganggap orientasi seksual dengan sesama jenis ini sebagai penyakit dan tidak normal. DR. Teddy, psikiater yang pernah gw temuin buat ngomongin maslah lesbian ini, menganalogikan mereka seperti ini : “Kebanyakan orang menulis dan melakukan banyak hal dengan tangan kanan. Tapi ada beberapa orang yang justru lebih banyak menggunakan tangan kiri-nya. Apakah mereka ini sakit dan tidak normal?”

Belum lagi, judgement dari masyarakat bahwa perilaku ini “menular”. Padahal itu td, semua orang potensial, dan jika lingkungannya tepat, maka akan termanifest…bukan masalah menular atau tidak. Bukan juga masalah bahwa komunitas2 homoseksual ini (sptgaya

nusantara) malah mengajak semua orang untuk ikutan jadi homoseksual. Ini mah, hukum sosiologis… kt Budhi Rajab (budayawan dan aktif mendukung perjuangan komunitas kaum gay), setiap kelompok (apapun) jelas akan akan menambah dan mengajak orang lain. Tidak bisa tidak. Masalahnya cuma, orang2 yang masuk harus otonom….jangan maksa…..

Jadi gw sebenarnya memang agak menyayangkan penutupan diri yang (mayoritas) dilakukan oleh para lesbian ini. Selain melanggengkan penabuan yang mendiskreditkan perempuan. Oh, tentu gw mengerti semua pertimbangan2 memang. Keluarga, sosial, bahkan agama. Tapi perjuangan untuk membuat mereka mengerti lebih mudah dibandingkan dengan perjuangan untuk terus menyangkal diri sendiri. Ini yang gw tangkap dari “the declare girl”. Dia belajar menerima dirinya sendiri, dan berusaha membuat orang lain menerima dirinya, ketimbang mendengar bisik2 yang justru bikin orang2 berpikir tambah tidak2. Dia berjuang untuk membuat orang lain melihat dirinya sebagai manusia, seperti yang lain2, hanya memiliki orientasi seksual yang berbeda. “Hanya pake tangan kiri”. Dan ini TIDAK tidak normal.

Gw juga ga berpikir klo perjuangan untuk membuat lingkungan sosial mengerti (apalagi di konstuksi budaya patriarkis spt skarang) adalah hal yang mudah. But nothing comes for free. Thers always price you have to pay. Ini yang dibilang Budhi waktu gw interview dia. Perjuangannya jelas panjang, dan berat. bahkan di negara2 barat dimana kaum homoseksual sudah mendapatkan pengakuan baik secara formal (legalitas Undang2) dan informal, pengakuan itu tidak didapat dengan cuma2….situasinya bahkan lebih parah (dengan prosesi bakar2an). Di lain pihak, kita juga tidak dapat mengabaikan fakta bahwa tingkat pendidikan dan sistem negara sekuler berpengaruh besar terhadap pengakuan itu….but well, that’s the price….sudah dibuktikan kok diArgentina

. Negara negara katolik taat…tapi kaum homoseksual disana berhasil……

So “declare girl”, keep fighting, long way to go….

Comments (3) »

Spent my days with a woman unkind,
Smoked my stuff and drank all my wine.
Made up my mind to make a new start,

going to california with an aching in my heart.
Someone told me there’s a girl out there
With love in her eyes and flowers in her hair.
Took my chances on a big jet plane,
Never let them tell you that they’re all the same.
The sea was red and the sky was grey,
Wondered how tomorrow could ever follow today.
The mountains and the canyons started to tremble and shake
As the children of the sun began to awake.
Seems that the wrath of the Gods
Got a punch on the nose and it started to flow;
I think I might be sinking.
Throw me a line if I reach it in time
I’ll meet you up there where the path
Runs straight and high.
To find a queen without a king;
They say she plays guitar and cries and sings.
La la la la
Ride a white mare in the footsteps of dawn
Tryin’ to find a woman who’s never, never, never been born.
Standing on a hill in my mountain of dreams,
Telling myself it’s not as hard, hard, hard as it seems.

No comment »

.there

but i was there.

i was there.

i was there.

i was there.

No comment »

gerwani was one of them

Gerakan Perempuan Menghadang Imperialisme, Fasisme dan Militerisme

Imperialisme, fasisme,dan militerisme merupakan paham dengan tindakan yang didasarkan pada dominasi suatu kelompok kekuasaan atas lainnya, yang mengakibatkan pembatasan atas hak-hak yang lain. Sejak awal abad 20, gerakan-gerakan perdamaian oleh kalangan perempuan merebak di banyak negara. Gerakan perdamaian ini dilakukan dalam berbagai bentuk aksi, namun sasarannya sama yaitu perdamaian, dengan melawan imperialisme, fasisme, dan militerisme.

Women’s Strike for Peace (WSP)
· Didirikan di Amerika Serikat tahun 1961, dengan anggota yang umumnya ibu-ibu rumah tangga, sebagai respon terhadap rencana Amerika Serikat yang ingin membalas Uni Soviet atas uji coba senjata nuklirnya dan berangkat dari kekuatiran mereka sebagai ibu atas masa depan anak-anaknya yang terancam oleh militerisme.
· 1 Nopember 1961, WSP bersama ribuan perempuan kulit putih dari kalangan kelas menengah melakukan rally di Washington DC dan di berbagai komunitas di Amerika Serikat dengan menggunakan slogan "Hentikan Perlombaan Senjata - Bukan Perlombaan Kemanusiaan".
· Tahun 1963, WSP berhasil meyakinkan pemerintah Amerika Serikat untuk menandatangani perjanjian pelarangan uji coba nuklir dengan Uni Soviet dan Inggris.

Petisi Anti Imperialisme di Mesir
Akhir abad 19 ketika agresi imperialisme dan kompetisi kekuatan antar negara Eropa menguat, Inggris berhasil menguasai Mesir. Tahun 1919, perempuan Mesir melakukan demonstrasi turun ke jalan sebagai sebuah pergolakan politik untuk menentang kekuasaan Inggris. Demonstrasi ini salah satunya dipelopori oleh Huda Sharawi (1882-1947) yang juga mengadakan aksi penggalangan tanda tangan untuk sebuah petisi yang disampaikan kepada Komisi Tinggi Inggris dan para pemimpin Mesir. Petisi tersebut menyatakan: "Kami perempuan Mesir, para ibu, saudara perempuan, dan istri yang menjadi korban ketamakan dan eksploitasi Inggris…menyesalkan kebrutalan dan aksi barbarisme yang telah terjadi…Masyarakat Mesir berkomitmen bahwa tidak ada lagi kekerasan selain mengekspresikan keinginan untuk bebas dan merdeka."

Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (GWDS)
· GWDS didirikan pada Kongres Perempuan Internasional tahun 1945 di Paris. Pendiri dan ketuanya, dari tahun 1945-1967, Eugenie Cotton, tokoh yang giat dalam gerakan perlawanan anti-fasisme di Perancis.
· GWDS memusatkan perhatiannya pada pembelaan hak-hak perempuan sebagai ibu, pekerja dan warga negara; memperjuangkan hak anak-anak untuk hidup, kesejahteraan dan pendidikan; menyokong perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa; menghapus apartheid, diskriminasi ras dan fasisme; serta memperjuangkan terjaminnya perdamaian abadi di dunia.
· Kongres IV GWDS di Wina pada 1958 mengeluarkan manifesto yang mengutuk percobaan nuklir dan menyerukan perlucutan senjata.

Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani )
· Berdiri 4 Juni 1950 dengan nama Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) dan kemudian berubah nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani ) pada Kongres II tahun 1954.
· Gerwani mengorganisir aksi-aksi anti-imperialis. Aksi-aksi ini ditujukan pada imperialisme Belanda selama perjuangan Trikora di Irian Barat (1957-1962), dan Inggris selama Konfrontasi dengan Malaysia (1963-1964) dan Dwikora.
· Sejalan dengan gerakan perdamaian, Gerwani mengambil bagian dalam kampanye menentang persekutuan militer SEATO
· Sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan kaum wanita Kuba, Jepang, Korea, laos, Kamboja dan Vietnam selatan dalam melawan subversi, terror dan agresi kaum imperialisme Amerika Serikat, Gerwani tahun 1955 mengadakan beberapa pertemuan persahabatan dalam rangka kampanye ke daerah-daerah di Indonesia.
· Pada peringatan hari Perempuan Internasional 8 Maret 1956, Gerwani mendapat dukungan luar dari berbagai golongan perempuan dan berhasil mengirimkan delegasi yang terdiri dari 200 orang ke presiden untuk menyampaikan tuntutan dari kaum perempuan yaitu segera dikeluarkannya Undang-Undang Perkawinan, diturunkannya harga kebutuhan hidup sehari-hari dan dilarangnya percobaan-percobaan senjata nuklir.
· Sebagai salah satu anggta GWDS, Gerwani ikut serta dalam Sidang Dewan GWDS di Peking yang menghasilkan beberapa tuntutan antara lain menghentikan perlombaan persenjataan, melarang percobaan-percobaan senjata atom, serta sebuah rekomendasi untuk menyelenggarakan Konferensi Wanita Asia-Afrika untuk memperluas perdamaian dan menghapus perang yang bahayanya masih mengancam ketentraman hidup manusia. (SN)

Sumber:
1. Jayawardena, Kumari. Feminism & Nationalism in the Third World; in the 19th and early 20th centuries. The Hague, Institute of Social Studies, 1982.
2. Sardjono, Umi. Meluaskan Aksi-aksi untuk Memperkuat Tuntutan Hak-hak wanita, Anak-anak dan Perdamaian. Jakarta, DPP Gerwani , 1956.
3. Sardjono, Umi. Madju Terus untuk Pengintegrasian Total Gerwani dengan Wanita Buruh tani dan Tani miskin. Jakarta, DPP Gerwani , 1964.
4. Staggenborg, Suzanne. Gender, Keluarga & Gerakan-gerakan Sosial. Jakarta, Media TOR, 2003.
5. Wieringa, Saskia Eleonora. Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia. Jakarta, Garba Budaya, 1999.

No comment »

gerwani dulu..

Prof. W. F. Wertheim:

KEBENARAN TENTANG GERWANI: ASPEK GENDER REJIM SOEHARTO

PADA tanggal 23 September 1990, atas undangan orang orang Indonesia yang
tinggal di Nederland, saya telah memberi ceramah di Amsterdam yang berjudul:
"Sejarah tahun 65 yang tersembunyi". (1) Dalam ceramah itu saya menghimbau
dengan sungguh sungguh kepada para hadirin untuk meneliti peristiwa 1965,
dan menyusun kembali sejarah PKI menjelang peristiwa peristiwa tersebut,
untuk membuktikan bahwa PKI merupakan suatu kekuatan sosial yang patut
diingat dengan penuh rasa bangga. Waktu saya memberikan ceramah itu
perhatian terhadap kebenaran sejarah 1965 di Indonesia, telah bangkit
kembali berkat penyingkapan penyingkapan wartawan Amerika Kathy Kadane.

Sama sekali tak terduga, bahwa pada tahun 1994 — empat tahun berselang
sesudah ceramah — saya menerima dari M.R. Siregar, yang ikut menghadiri
ceramah saya itu, satu kopi dari penerbitan pertama sebuah buku yang sangat
penting. Buku itu tentang sejarah PKI pasca-perang, yang sekarang, dalam
bentuk yang diperbaiki, telah terbit baik di Eropa maupun di Indonesia
dengan judul "Tragedi Manusia dan Kemarusiaan: Kasus Indonesia - Sebuah
Holokus Yang Diterima Sesudah Perang Dunia Kedua (edisi ke-2 Tapol, 1995;
edisi ke-3 Progres, 1996). (2)

Dalam ceramah itu saya juga menegaskan tentang keharusan rehabilitasi
secara menyeluruh terhadap Gerwani, yang telah difitnah oleh Orde Baru dengan
segala cara yang paling keji. Saya menunjukkan di sana:

"Ada suatu kewajiban yang penting, yaitu meneliti kembali duduk perkara
Gerwani di dalam peristiwa 1 Oktober 1965. Dari semula penguasa menuduh
gadis gadis Gerwani di Lubang Buaya telah melakukan perbuatan yang paling
keji dan tak tahu malu. Melalui media pers bertahun tahun disiarkan, seolah
olah mereka dihadirkan di sana oleh PKI untuk melakukan upacara "Harum
Bunga"; sambil menari nari lenso untuk mengantar nyawa jenderal jenderal
itu, melakukan perbuatan tak senonoh, dibagi bagikan pisau silet, dan lantas
ikut ambil bagian dalam perbuatan jahat serta menyiksa jenderal jenderal itu
sebelum mereka dibunuh. Sebagai akibat dari cerita cerita demikian terbentuk
lah gambaran, seakan akan Gerwani adalah perkumpulan perempuan lacur,
jahat, bengis yang harus dihinakan dan bahkan dibinasakan". (3)

Dalam ceramah itu, saya seterusnya menekankan pentingnya, agar Gerwani
sepenuhnya dibersihkan dari semua tuduhan yang tidak benar. Karena justru
Gerwani yang sebelum 1965 paling aktif dalam membela hak hak perempuan, dan
berjuang demi pelaksanaan hak hak perempuan itu.

Dan sekali lagi seruan saya tidak sia-sia. Hanya kali ini sambutan
tidak datang dari seorang dari hadirin orang Indonesia yang mengikuti
ceramah saya.
Tetapi dari seorang sarjana sosiologi Belanda yang sudah bertahun-tahun
terlibat dalam studi gerakan perempuan Indonesia, dan kemungkinan besar sama
sekali tidak pernah mengetahui tentang seruan saya itu.

Tak terduga, pada tanggal 6 Oktober 1995 di Universitas Amsterdam,
Saskia Wieringa membela tesis doktornya tentang Gerwani, satu minggu sesudah
edisi ke-2 studi Siregar dipresentasikan di Amsterdam. Judul disertasinya adalah :
"The Politicization of Gender Relations in Indonesia. The Indonesian Women’s
Movement and Gerwani Until the New Order State". (Perpolitikan Hubungan Hubungan
Gender di Indonesia: Gerakan Perempuan Indonesia dan Gerwani Sampai Negara Orde
Baru). Sangat disayangkan bahwa selama ini studi tersebut hanya tersedia
sebagai disertasi doktor, dan dalam jumlah kopi yang sangat terbatas. Suatu
terjemahan dalam bahasa Indonesia sudah lama selesai, tetapi belum
diterbitkan. Namun isinya begitu penting, sehingga suatu tinjauan tentang
nya tidak boleh lebih lama ditunda tunda lagi.

Pada pokoknya studi ini, sesudah suatu introduksi teoretik, terdiri dari
dua bagian. Bagian pertama, suatu analisis sejarah masa pra-perang dan pasca-
kemerdekaan tentang Gerakan Perempuan Indonesia, dan dalam kerangka itu
posisi Gerwani, yang seluruh nya terdiri dari delapan bab. Bagian kedua,
satu bab terakhir, meliputi kejadian kejadian 1965 dan akibat-akibatnya. Tetapi dapat
dikatakan, bahwa kedua bagian itu sama pentingnya. Kedua duanya merupakan suatu
uraian yang mengkonstruksi perkembangan pasca-perang di bidang sosial dan
politik di Indonesia, yang dianalisis dari aspek baru : pandangan gender.

DARI ketiga bab yang perhatiannya dicurahkan kepada sayap kiri gerakan
feminis Indonesia pasca-perang, yang tadinya diwakili oleh Gerwis, kemudian
oleh Gerwani, orang tidak bisa tidak akan sampai pada kesimpulan: Bahwa pada
pokoknya Gerwani telah memainkan peranan penting dan positif di dalam
masyarakat pasca-perang Indonesia. Tetapi, Wieringa pasti tidak
mengidealisir peranan politik yang dimainkan Gerwani sejak 1954 dan
sesudahnya. Dalam analisisnya itu ia mengritik berbagai aspek strategi
Gerwani. Ia terutama mencela kecenderungan Gerwani, yang sesuai dengan
strategi PKI berpantang mengritik sikap Presiden Sukarno dalam masalah perkawinan.

"Indonesia tidak merupakan suatu perkecualian dari pola umum, di mana
sesudah kemerdekaan nasional dimenangkan, gerakan perempuan merasa kecewa,
meskipun kekecewaan itu mempunyai kekhususan nya sendiri. Dalam hal ini
kehidupan pribadi Presiden pertama negara, yang telah berhasil mengerahkan
kekuatan kolektif gerakan perempuan di belakang perjuangan nasional sebagai
"roda kedua kereta", telah ikut membantu menggagalkan pembaharuan peraturan
perkawinan, yang dengan begitu gigih diperjuangkan oleh gerakan tersebut."
(hlm 136).

Wieringa menguraikan masalah itu sebagai berikut :

"Perkawinan Presiden Sukarno dengan Hartini pada tahun 1954 merupakan
pukulan berat bagi gerakan (perempuan). Presiden ini juga lah yang pernah
berpidato di berbagai kongges perempuan ‘dengan cara yang telah memberikan
inspirasi besar’, dan yang di dalam bukunya, "Sarinah", telah menjanjikan kepada
kaum perempuan kebebasan "di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan
makmur kelak ". Kini, sesudah kemerdekaan itu tercapai, ia telah meremehkan
kepentingan sentral yang diperjuangkan kebanyakan organisasi perempuan." (hlm 144).

Jika dalam tahun 1952 Gerwis telah dengan gigih mendukung tuntutan perubahan
undang undang perkawinan, dan menentang rencana undang-undang yang akan
mengatur pemberian tunjangan kepada janda janda pegawai negeri yang berpoligami,
berupa pensiun sebanyak dua kali lebih besar dari yang akan diterima oleh seorang janda
istri monogami (hlm 179); maka dalam tahun 1954, setelah Gerwis menjadi Gerwani,
justru organisasi perempuan ini telah absen dalam mengritik perkawinan Sukarno
dengan Hartini. Tidak diragukan, bahwa dalam hal ini ada hubungan dengan kemauan
PKI untuk tidak menimbulkan pertentangan dengan Sukarno, berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan politik.

Tetapi, sebagai konsekuensi, posisi memimpin Gerwani dalam perjuangan
untuk hak-hak perempuan menjadi lemah, juga di dalam menghadapi strategi
pihak-pihak lain dalam gerakan perempuan Indonesia. Menurut Wieringa, karena
strategi nya dalam masalah perkawinan Sukarno dengan Hartini yang demikian
itu, Gerwani juga mengisolasi diri sampai batas batas tertentu dari organisasi feminis
lainnya. Perubahan undang-undang perkawinan tetap menjadi acara program
Gerwani, tetapi selama tahun-tahun 50-an semakin kurang mendapat perhatian.

Dalam periode "Demokrasi Terpimpin", dari 1957 dan sesudahnya, Gerwani
semakin mendukung politik Sukarno dalam hubungan dengan gerakan feminis: waktu
sudah tiba bagi perempuan Indonesia "untuk berjuang bersama dengan para lelaki,
dan tidak untuk melawan mereka". Yang dimaksud Sukarno dengan perjuangan yang
harus dilakukan kaum perempuan bersama dengan kaum lelaki adalah perjuangan
melawan imperialisme (hlm. 230). Dalam hubungan ini Gerwani bercita-cita berdiri
di barisan paling depan gerakan perempuan, tetapi di sini ia mendapat perlawanan
dari organisasi-organisasi lain, terutama karena sikapnya terhadap Sukarno.

Tetapi dalam praktek aktual, secara lokal Gerwani tetap aktif dalam
kampanye kampanye yang berciri feminis. Seperti misalnya dalam membangun
taman penitipan kanak-kanak, di dalam bidang pendidikan dan kesehatan,
perjuangan melawan kerja anak anak yang berat di sawah ladang, menentang
prostitusi dan kawin paksa (hlm. 235 ff). Wieringa secara ringkas
menyimpulkan, bagaimana Gerwani membedakan dirinya di hadapan organisasi
organisasi perempuan lainnya, sebagai berikut: "Gerwani membedakan diri
karena perhatian nya kepada hak hak buruh dan tani perempuan. Dengan
demikian massa pengikut Gerwani berbeda : mereka berjuang untuk serangkaian
kepentingan yang "lebih lengkap". Dan cara-cara pemecahan nya, terutama
mencontoh dunia sosialis, juga berbeda" (hlm. 275). Organisasi organisasi
lain seperti Perwari, menurut Sukarno bersifat "gerakan nyonya nyonya"
(ladies movement) (hlm. 231 ).

Gerwani tidak mengidentifikasikan diri dengan PKI, dan menerima juga anggota
anggota non-komunis. "Dari tahun 1945 sampai 1965, Gerwani menetapkan dirinya
sebagai suatu organisasi yang tidak berpolitik kepartaian, namun mempunyai
pandangan pandangan politik" (hlm. 213). Ketua PKI DN. Aidit, menurut
Wieringa, tidak begitu mempedulikan kongres kongres Gerwani (hlm. 210, ketr.
63). Di tingkat lokal, Gerwani sering dapat menggerak kan aksi aksi untuk hak hak
dan kepentingan kepentingan perempuan, dengan bekerja sama dengan grup grup
lokal organisasi organisasi perempuan lain nya (hlm. 195). Di samping itu
pada awal tahun 1960-an beberapa organisasi perempuan lainnya juga semakin
terpengaruh oleh garis politik "hegemonik" Sukarno; mereka "merasa terpaksa
membalutkan kegiatan kegiatan mereka dengan bahasa yang menonjol kan istilah
istilah seperti Nasakom, Manipol/Usdek, Nefos dan lain lain istilah yang berlaku (hlm. 156).
Tetapi, pada tahun 1964 hubungan antara Gerwani dan sayap-sayap lain
gerakan perempuan telah mengalami ketegangan yang semakin meningkat.

Dalam hubungan ini faktor penting yang berpengaruh pada tahun itu adalah
instruksi pemerintah, bahwa semua organisasi massa harus menggabung kan diri
kepada salah satu partai politik. "Karena Gerwani merasa dirinya paling dekat
dengan PKI diambil keputusan bahwa dalam Kongres yang akan datang,
pada bulan Desember 1965, organisasi tersebut akan secara resmi menggabungkan
diri kepada Partai". Marxisme akan menjadi ideologi pembimbing, dan "Gerwani
akan berubah dari suatu organisasi non-politik yang berdasarkan pendidikan
dan perjuangan, menjadi suatu organisasi massa perempuan Komunis dan
non Komunis." (hlm. 201-202). Sementara itu Gerwani telah tumbuh membesar,
menjadi suatu organisasi yang telah memiliki anggota l,7 juta orang !

Terutama aksi-aksi "spontan" PKI, BTI dan Gerwani di bidang perubahan
tanah (landreform) (4), yang telah menimbulkan rasa permusuhan yang serius
dari golongan Islam dan grup grup tertentu dalam PNI yang berorientasi
kanan. Menurut Wieringa "peranan Gerwani di dalam aksi aksi sepihak tidak
pernah secara khusus diuraikan dalam penulisan sejarah periode tersebut.
Namun, separoh dari kaum tani yang dipenjarakan adalah perempuan. Yang
sering berkunjung ke penjara penjara, juga para pemimpin Gerwani. Yang
membantu kader kader BTI dalam usaha pembebasan para tawanan pun mereka
itu juga!" (hlm. 223). Tetapi, di samping itu, militansi anggota anggota Gerwani
juga menjengkelkan orang Jawa yang sangat menghargai konsepsi tradisional
tentang kewajiban perempuan. "Definisi Gerwani mengenai kodrat (tata kelakuan)
tidak mengandung pikiran, bahwa anggota anggota Gerwani harus menampilkan
diri di depan umum sebagai makhluk yang malu dan lemah lembut.
Kebanggaan atas militansi para sukarelawatinya dalam kampanye Malaysia tahun
1960-an, telah didahului oleh usaha bersama untuk mendorong aktivisme
revolusioner perempuan dalam tahun 1950-an. Akar dari kesiap siagaan berjuang
Gerwani ditemukan di dalam sejarah pribadi banyak anggota Gerwis, yang pernah
berjuang di dalam perang kemerdekaan nasional" (hlm. 255). "Penentangan yang
timbul terhadap militansi Gerwani yang menonjol itu menunjuk kan kekuatan dari kodrat
tradisional perempuan yang menuntut sifat perbudakan dan penurut bagi
perempuan" (hlm. 281).

Mengenai cita-cita dan praktek moral Gerwani : "Gerwani sangat keras di
dalam politik perkawinan: monogami adalah norma" (hlm. 261). "Tuduhan tuduhan
yang ditujukan kepada Gerwani sesudah "peristiwa peristiwa" itu tidak
didukung oleh ideologi atau praktek Gerwani. Organisasi itu menentang prostitusi,
membela korban korban perkosaan dan berjuang melawan "korupsi moral" yang
berhubungan dengan "dansa gila gilaan" dan musik ngak-ngik-ngok. Politik seksual
Gerwani sesungguhnya puritan, dengan tekanan tertentu kepada nilai nilai egaliter ( … ).
Kesungguh-sungguhan nya, yang dengan itu pula Gerwani mempertahankan peranan nya
sebagai "penjaga moral" para keluarga (Manipol) nya, dan masyarakat umumnya,
adalah sesuai dengan kodrat yang berlaku (hlm. 282-283).

Cara penulis yang jitu dan mencolok dalam menganalisis sejarah gerakan
perempuan Indonesia pra-kup, dan peranan khas Gerwani di dalam gerakan itu,
menantang pembaca untuk mempelajari bab terakhir dengan lebih mendalam lagi.
Bab yang amat penting ini diberinya judul "Dua Kup", ketika "layar telah turun"
dan Gerwani pasti hancur dan lenyap.

Dalam bab terakhir ini Saskia Wieringa memberikan tinjauan ringkas
tentang kejadian kejadian pada malam 30 September sampai 1 Oktober 1965,
berikut analisis yang mendalam tentang periode krusial selama bulan bulan
terakhir tahun itu.

Terdapat banyak studi tentang periode yang amat tragis dalam sejarah
Indonesia ini, tetapi penulis telah mencoba untuk menambah suatu perspektif
yang pada umumnya langka dalam literatur masa kini : arti aspek gender yang
luar biasa penting.

Sejumlah besar sejarahwan yang, di antaranya saya sendiri, telah mencoba
menjelas kan keganasan pembantaian ratusan ribu kaum kommunis dan kaum kiri
Indonesia lainnya, terutama di pedesaan sebagai reaksi atas aksi sepihak yang
dilancarkan oleh tani miskin mulai tahun 1964 melawan tuan tanah kaya atau
petani kaya (farmers), yang umumnya mereka itu tergolong masyarakat Islam yang
alim. Namun, menurut Wieringa, seluruh kampanye pembasmian yang dilancarkan
terhadap PKI dan organisasi organisasi massanya, jelas sekali didasarkan atas
pola fitnahan, yang dari awal ditujukan kepada Gerwani dan ideologi militan yang
berkaitan dengan gerakan perempuan. Melalui simbolisme seksual yang digunakan
di dalam kampanye ini, PKI dan komunisme dapat sama sekali didiskreditkan.
Kutipan kutipan berikut akan menjelaskan tesis pokok Wieringa :

"Apa yang terjadi selama periode krusial selamam bulan bulan terakhir 1965,
penting dibahas karena dua alasan. Pertama, kampanye tersebut mengandung
konsekuensi konsekuensi penting bagi gerakan perempuan; karena Gerwani telah
sama sekali dihancurkan, sedang kan ruang gerak organisasi organisasi perempuan
lain nya pun telah sangat dipersempit. Sebelum tahun 1965 organisasi organisasi
perempuan dapat menentukan kepentingan kepentingan mereka sendiri, walaupun
kemampuan ini semakin dibatasi oleh politik nasional dan partai. Hal ini tak
mungkin lagi di negara Orde Baru, di mana negara lah yang menentukan kepentingan
kepentingan apa yang harus menjadi perhatian organisasi perempuan. Ketentuan
ini tidak hanya berlaku bagi organisasi perempuan yang didirikan oleh negara,
seperti PKK dan Dharma Wanita, tetapi berlaku bagi semua organisasi perempuan.

Kedua, kampanye tersebut telah menyentuh titik peka masyarakat Indonesia,
yaitu dengan mengaitkan Komunisme (dan belakangan pikiran liberal kritis pada
umumnya) dengan fitnah, konsep Islam tentang ketiadaan aturan seksual.
(….) PKI lalu diasosiasikan dengan ketidak aturan , yang dilambang kan melalui
peri laku seksual perempuan yang buruk. Masyarakat hanya dapat diselamatkan
dari keadaan kaos ini dengan pembersihan dari Komunisme secara sistematis, dan
meresubordinasikan kembali kaum perempuan. Sebagai lambang kejantanan, yaitu
tentara — terutama presiden Suharto — telah berdaya upaya tampil sebagai satu-
satunya kekuatan yang mampu memulihkan dan menjaga ketertiban masyarakat.
Langgeng nya kekuasaan mereka dapat mereka legitimasi kan dengan terus menerus
menciptakan ulang mitos tentang binatang komunis yang busuk … Sementara itu
Gerwani telah diasosiasikan dengan perilaku yang cabul dan tuna susila (hlm. 287/288).

Analisis Wieringa didasarkan atas penelitian lapangan yang dilakukan nya dalam
pertengahan tahun 80-an. Dia berhasil mewawancarai beberapa pemimpin utama
Gerwani yang masih hidup, yang semuanya telah menjalani hukuman penjara puluhan
tahun lamanya dan mengalami siksaan yang amat kejam. Ia juga mewawancarai
beberapa anggota biasa, yang dituduh mempunyai hubungan dengan kejadian-kejadian
sekitar "Lubang Buaya", di dekat lapangan terbang Halim.
Di sana pada subuh 1 Oktober 1965 para jenderal yang diculik dalam operasi
penculikan, dan yang ketika itu masih hidup, telah dibunuh. Bersama dengan
mayat mayat yang telah dibunuh terlebih dahulu, mayat mereka itu dibuang di
dalam sumur yang dalam.

Wieringa juga mempelajari berita berita koran antara 1 Oktober 1965 dan
bulan-bulan pertama 1966. Dari bahan bahan itu ia dapat "menelusuri bagaimana
kampanye fitnah mengenai keterlibatan anggota Gerwani di Lubang Buaya, telah
dibangun." Pada mulanya terdapat keragu raguan tertentu di kalangan militer
untuk menuduh para perempuan yang hadir menyaksikan kekejaman di Lubang
Buaya itu. Namun, sejak 11 Oktober dan seterusnya, suratkabar suratkabar
yang semuanya di bawah pimpinan tentara, mengikuti satu garis yang konsisten :

"Berangsur angsur unsur unsur baru diajukan, semuanya itu diarah kan pada kesimpulan
pokok yang harus terbentuk pada masyarakat Indonesia, bahwa: Komunisme begitu
tidak bermoral dan anti-agama, sehingga telah mengakibat kan kaum perempuan
"kita" melalaikan kewajiban kewajiban keperempuanan mereka.
Bukan nya menjadi istri yang setia dan ibu yang baik, yang tunduk kepada ideologi
negara Pancasila dan agama, mereka malah giat berpolitik dan bermoral cabul,
melampiaskan hasrat seksual mereka yang mengerikan, dengan cara yang tak senonoh
dan melakukan kekejaman-kekejaman yang tak terperi. Karenanya masyarakat harus
diyakinkan, bahwa membasmi Komunisme dan khususnya Gerwani sama sekali dapat
dibenarkan, karena itu berarti membersih kan masyarakat dan memulih kan ketertiban.
Pesan ini ditujukan kepada masyarakat yang sudah sangat terguncang oleh krisis
ekonomi dan politik serta kerusuhan di pedesaan." (hlm. 306-307).

Masih pada tanggal 11 Oktober "Berita Yudha", suratkabar tentara, sudah
mulai menyajikan ceritera tentang tubuh para jenderal yang disayat sayat: "mata
dicungkil, alat kelamin beberapa jenderal dipotong". Koran-koran lain juga
melakukan kampanye yang sama (hlm. 309). Sebuah surat kabar lainnya, pada
tanggaI 12 Oktober, memberitakan bahwa "Gerwani menari telanjang bulat di depan
kurban kurban mereka. Dengan demikian berita itu mengingatkan kita kepada upacara
upacara kanibalis yang dilakukan oleh suku suku primitif berabad-abad yang lalu.
Biar lah kaum perempuan sendiri menilai, moral perempuan Gerwani yang kecabulannya
lebih buruk dari binatang itu." (hlm.310) Ini lah nada yang menentukan dalam seluruh
kampanye, yang dengan segera disusul dengan slogan slogan seperti
"Hancurkan PKI!" dan "Pelacur pelacur Gerwani!"

Selanjut nya surat kabar juga mulai "memberi isi" pada tuduhan tuduhan mereka
dengan "pengakuan pengakuan" palsu. Tentang "perbuatan perbuatan mengerikan"
yang dipaksakan oleh militer, polisi dan pengawal penjara pada gadis gadis yang
kembali dari pemeriksaan, dengan tubuh memar babak belur dan penuh
luka. Beberapa informan Wieringa "juga menyaksikan gadis-gadis yang telah
ditelanjangi, diambil foto mereka, kemudian foto foto itu disiarkan seolah olah
diambil di Lubang Buaya" (hlm. 304, 314).

Argumen terkuat Wieringa dalam menolak semua tuduhan yang sama sekali
palsu ialah kenyataan, bahwa "sesudah ‘pengakuan pengakuan itu’ tidak seorang pun
dari perempuan perempuan tahanan, yang hadir di Lubang Buaya pernah diajukan
ke pengadilan: (hlm. 318).

Pada tanggal 12 Desember 1965, Presiden Sukarno berusaha membendung
gelombang kebohongan dan kekerasan. Ia memutuskan untuk mengeluarkan
pernyataan, khusus tentang hasil otopsi para dokter terkemuka dari mayat
para jenderal yang telah terbunuh. Dalam pernyataan itu ia menyatakan, bahwa
semua berita tentang pengrusakan seksual dan pencungkilan mata para jendral
adalah berita palsu. "Ia menghimbau para watawan agar tetap berpegang kepada
kenyataan, dan menghindari penyebaran kabar bohong. Hanya satu surat kabar
yang memuat pernyataan Presiden Sukarno tersebut." (yaitu "Sinar Harapan",
sebuah suratkabar Protestan). Namun berita itu tak ada gunanya, karena surat
kabar yang sama ini juga beberapa hari kemudian, sekali lagi memuat suatu
‘pengakuan’ palsu tentang adanya pesta pora seksual (hlm 317-318).

Menurut Wieringa seluruh kampanye itu mengabdi kepada dua tujuan penting.
Pertama, pembersihan dan pembasmian total terhadap PKI dan semua ormas yang
terkait, termasuk Gerwani, dengan jalan pembantaian masal yang disiap kan selama
bulan bulan terakhir 1965. Kedua, menumbang kan Sukarno sebagai Presiden dan
membangun apa yang mereka namai ‘Orde Baru’. Tujuan yang tersebut belakangan
itu Wieringa menamainya sebagai kup ‘merangkak’ kedua yang sesungguh nya. Pada
akhir bukunya Wieringa mengambil kesimpulan pokok sebagai berikut:

"Pemahaman saya tentang kampanye fitnah seksual tahun 1965-66 tidak hanya
menyingkapkan kebohongan kebohongan, tetapi juga membukti kan sesuatu yang
menyangkut latar belakang penentangan penentangan seksual, yang dengan jalan
ini konsepsi konsepsi politik, dalam hal ini lahir nya ‘Orde Baru’, dapat
diciptakan" (hlm. 338).

Sumbangan Saskia Wieringa untuk sampai pada pengertian yang lebih dalam
tentang hakikat pergantian politik tahun 1965 yang tragis itu tentu saja sangat
penting. Kaitan langsung antara kampanye fitnah terhadap Gerwani, pada bulan
bulan terakhir 1965 di satu pihak; dan pembantaian yang dilancarkan di banyak
tempat di Indonesia, serta dijatuhkan nya Sukarno sebagai Presiden di pihak
lain; kedua duanya merupakan sumbangan yang banyak artinya bagi penulisan
sejarah Indonesia.

Namun watak sejati kampanye fitnah yang telah ikut membantu mendirikan
‘Orde Baru’ juga telah ditunjukkan oleh sejumlah sejarahwan lainnya. Wieringa sendiri
di hlm. 295 menunjuk kepada Julie Southwood dan Pat Flanagan, begitu juga kepada
Jacques Leclerc (5). Boleh juga dikemukakan Michael van Langenberg,
di dalam karangan nya yang amat bermutu yang berjudul "Gestapu and State Power
in Indonesia", yang ditulis untuk karya Robert Cribb "The Indonesian
Killing 1965-1966" (6), pada hlm. 47, ia menunjuk kan bagaimana para  komandan
militer pada hari hari sesudah 30 September 1965, tidak saja "telah melancarkan
kampanye, dengan sengaja menyebar suasana ketakutan dan balas dendam",
tetapi juga telah menghasut masyarakat "agar jangan memberi belas kasihan sedikit
pun pada para pelaku Gestapu, yang pada pokoknya di-identifikasi-kan dengan PKI.
Mereka difitnah di depan umum sebagai ‘pengkhianat’, ’setan’, dan pembunuh
anak serta perempuan yang cabul." Penulis melihat adanya hubungan langsung
antara fitnah itu dengan pembantaian masal yang segera menyusul sesudah nya.
Van Langenberg kemudian melanjutkan :

"Legitimasi Orde Baru dibangun di atas dasar peranan nya sebagai pelaku
pemulihan ketertiban. Skala pembunuhan telah digunakan nya untuk memperkuat
citra ‘Orde Lama’ sebagai suatu masa khaos dan kekacauan dalam pikiran
masyarakat. ‘Orde Baru’ telah menggunakan memori sejarah tentang pembunuhan
pembunuhan untuk menegakkan legitimasinya sendiri. (. . . ) Kejadian
kejadian yang membikin absah nya kekuasaan, dan juga merupakan proses yang
memungkinkan nya memperoleh dan memberlakukan kekuasaan itu" (hlm. 58-59). Juga
Siregar, dalam bukunya "Tragedi Manusia dan Kemanusiaan" tersebut di atas,
yang atas dasar bukti bukti historis mengandung usaha merehabilitasi PKI,
secara khusus mempersoal kan kampanye terhadap Gerwani (hlm. 215 dst) (7),
juga dengan menunjuk kepada analisis Van Langenberg. Tapi studi ini belum
tersedia ketika Wieringa menulis disertasinya.

Bagaimanapun juga tentu saja ciri khas analisis Wieringa ialah, bahwa
ia tetap orang pertama yang menonjol kan pendirian gender sebagai faktor yang
menentukan, agar bisa memperoleh pengertian yang lebih mendalam, terutama
tentang hubungan antara kampanye terhadap Gerwani dengan naik nya Suharto ke
kekuasaan mutlak. Yang juga sangat penting, bahwa Wieringa berhasil
mewawancarai sejumlah perempuan Indonesia, sehingga dapat memperkenalkan
berbagai bagai segi pengalaman pribadi para kurban ‘perang gender’ Suharto itu.
Wieringa juga orang pertama yang secara sistematis telah mempelajari isi ’seksis’ surat
surat kabar, mulai dari awal Oktober 1965 danmasa masa sesudah nya.

Mengenai titik berat, yang oleh beberapa penulis lain (diantara nya Mortimer,
Utrecht dan saya sendiri) diletakkan di atas konflik klas di pedesaan, sebagai
sebab pokok pembunuhan masal, Wieringa berusaha mengubahnya dengan
memberikan tekanan titik berat itu pada faktor gender.
Menurut pendapat saya kedua pandangan itu dapat digabung dalam satu
keseluruhan, dengan memperhatikan nya secara konsisten dalam posisi
interaksi yang timbal-balik. Saya tetap berpendapat, pembunuhan masal di
desa desa di Jawa dan Bali tidak akan terjadi dengan bantuan besar sebagian
kaum tani, apabila dalam tahun 1964 aksi aksi sepihak tidak mendapat
dorongan dari BTI dan PKI. Alasan kuat pendirian ini ialah kenyataan, bahwa
di Jawa kebanyakan pembunuhan masal justru terjadi di daerah daerah, di mana
aksi sepihak pernah terjadi dalam skala luas (8); Karena itu, misalnya, dari
Jawa Barat tidak ada berita tentang pembunuhan masal.

Di dalam sebuah karangan yang terbit tahun 1969, saya mengajukan
pendapat, bahwa dengan dilancarkannya semacam perang klas dalam skala luas
di pedesaan di Jawa, PKI telah membuat kesalahan besar. Langkah itu sama sekali tidak
sejalan dengan usaha mempertahankan "kerjasama Nasakom" dengan Sukarno, NU
dan PNI di tingkat atas (9). Analisis yang sama dapat ditemukan pada Wieringa, hlm 125.

Apa yang diterang kan Wieringa dalam analisis gender nya, bukan merupakan sebab
dari pembunuhan masal di pedesaan yang lebih mendasar, tetapi merupakan
metode yang digunakan untuk memberi motivasi penggalakan rasa benci, yang
sedang menyala nyala terhadap apa saja yang ada hubungan nya dengan komunisme.

Koreksi kecil perlu diberikan: pada hlm. 90 disebut Sutan Sjahrir bersama dengan
Amir Sjarifuddin mengaku menjadi anggota satu kelompok komunis ilegal.
Ini sudah pasti tidak betul. Sjarifuddin mengakui hal itu baru sesudah
kembali nya Musso ke Indonesia pada tahun 1948. Pada waktu itu Sjahrir sudah
pecah dengan Partai Sosialis Sjarifuddin yang radikal, dan membangun partai
baru, yaitu PSI. Ketika menjadi mahasiswa di negeri Belanda, Sjahrir tidak
pernah bergabung dengan grup grup komunis, walaupun secara pribadi dia ada
hubungan dengan kaum sosialis radikal (10).

Satu hal kecil yang saya agak berbeda pendapat dengan Wieringa, yaitu
mengenai pendekatan terhadap sejarah awal gerakan perempuan Indonesia, yang
menyangkut keterangan nya tentang Raden Ajeng Kartini, perintis emansipasi
perempuan Indonesia.

Pada hlm. 67 penulis menyatakan keheranan nya, bahwa dalam publikasi
publikasi terdahulu tentang Kartini, "perkawinan poligami nya dan
penderitaan yang ditimbul kan oleh nya" selalu diremehkan (ketr. 25).
Menurut pandangan saya ada satu penjelasan yang wajar. Di dalam surat
menyurat Kartini, yang diterbit kan dalam awal tahun tahun abad ini,
Kartini jarang menyebut keberatan nya terhadap poligami. Hanya sejak surat
suratnya kepada Ny. Abendanon diterbitkan pada tahun 1987, kita baru dapat
mengetahui betapa masalah ini sangat penting menempati seluruh kehidupan nya.***

(1) Diterbit kan dalam "Arah", suplemen No. 1 th 1990; juga dalam "Aksi
Setiakawan", 1990.
(2) Edisi pertama terbit 1993, dalam jumlah kopi sangat terbatas; edisi
kedua dengan revisi sepenuh nya terbit oleh "Tapol", London, Oktober 1995;
edisi ketiga oleh "Progres" 1996, dan memuat (sebagai lampiran) teks teks
pidato pada presentasi edisi ke-2, 30 September 1995 di Amsterdam.
(3) Himbauan yang sama untuk memulih kan reputasi Gerwani disiarkan sebelum
nya, dalam Prakata saya untuk kumpulan sajak Magusig O Bungai, "Sansana Anak
Naga dan Tahun Tahun Pembunuhan", ISDM Culemborg, 1990 hlm. 21.
(4) Sebuah studi penting tentang Aksi Sepihak di Jawa Tengah telah dibela
Kusni Sulang sebagai disertasi Doktor di Paris tahun 1986. Teks studi
berjudul "Le mouvement des actions unilaterales pour les reformes agraires des paysans de
Klaten, Java-centre, Indonesie 1963-1965: Son commencement, sa chute et ses
lecons", 2 Vols., EHESS, Paris, 1986, sayang sekali sampai sekarang belum diterbitkan.
(5) Julie Southwood dan Patrick Flanagan, "Indonesia: Law, Propaganda and
Terror", London 1983, hlm.69-72; Jacques Leclerc, "Sang et volupte a Lobang
Buaya", ECISM, mimeo 11 hlm.
(6) Robert Cribb (ed.), "The Indonesian Killings 1965-1966; Studies From Java and Bali",
Monash Univ., 1990; bab ke-2 oleh Michael van Langenberg, berjudul "Gestapu and
State Power in Indonesia".
(7) Edisi kedua (London), hlm.215 dst.
(8) Saya bisa mengacu lagi pada disertasi Kusni Sulang yang tidak dipublikasi, Paris 1986.
(9) Lihat artikel saya "From Aliran Towards Class Struggle in the
Countryside of Java, Pacific Viewpoint", Vol. 10 (1969), hlm.1-17.
(10) Rudolf Mrazek, "Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia", Ithaca, 1994.

No comment »