paranoia
Waktu
baca curhatan seorang kawan di blog-nya (+/- teknologi), ttg bagaimana caranya
(dia) pagi-pagi sekali harus memulai hari, dengan tidak sepenuh hati, krn
kewajiban kerja, gw inget tulisannya Seno Gumira ttg “paranoia” yang dialami
oleh homo-jakartaensis. (btw gw ngefans bgt sm tulisan2nya seno…di
artikel2nya, dia bisa bikin hal yang sebenarnya rumit jadi mudah dicerna dengan
analogi2 yang simpel bgt….)Nah,
mengenai paranoia ini, menurut gw dengan kasat mata ga Cuma dialami oleh
homo-jakartaensis. Gw pikir sekarang, di setiap jejak belahan bumi, manusia
sedang mengalami distorsi kemanusiaannya, menderita suatu mental disorder
berupa paranoia. Dan spt yang disinggung kawan gw itu, semua orang sekarang lg
sibuk lari terburu2, mengejar….Sedang
ngejar apa, gw ga bisa nangkep…Balik
ke tulisan seno, dia bilang klo kita hidup tiap detik dalam ketakutan.Contohnya,
jalanan macet tiap pagi hari kerja, karena semua orang tergesa untuk sampe
kantor, karena mereka takut telat. Karena klo telat, mereka takut konditenya
buruk. Kalo konditenya buruk, mereka takut di PHK. Kalo di PHK, mereka takut ga
bisa cari pekerjaan lagi. Kalo ga dapet pekerjaan, mereka takut ga bisa
berwiraswasta. Seterusnya, kalo udah gini, mereka takut ga bisa make a
living… (ni gw tambahin). Orang kayak gini, biasanya juga alergi sama serikat
buruh, yang bakal bikin ketakutannya tambah besar.Orang-orang
itu (kita-kita ini), kapan lagi bisa menikmati hidup? Karena segera setelah
pensiun dan tidak takut sama masalah pekerjaan lg, mereka bakal takut mati.Itu
di kantor. Di rumah, ketakutannya lain lagi. Ketakutan akan hak milik yang
mungkin sedang diincar orang lain, ditambah lagi ketakutan-ketakutan krn
hubungan sosial…..Hasilnya,
ya jalanan macet itu….Tapi
ujung-ujungnya, ketakutan-ketakutan itu bakal kita terima sebagai suatu
kewajaran, karena harus diakrabi dengan kata survival .Orang2
yang ga merasakan ketakutan2 itu mungkin hanya orang2 yang mencintai
pekerjaannya, thdp apa yang dikerjakannya. Dan malang, sedikit sekali orang2
yang dikaruniai rasa cinta sm apa yang dikerjakannya..Inilah,
yang menurut gw, membuat manusia sekali lagi terjebak dalam dua sisi mata uang,
dalam dualisme, jalan tengah, yang diperhalus dengan realistis . Kita, manusia, memusuhi dan melakukan dehumanisasi
terhadap diri sendiri….Bikin
gw bingung, karena apa yang harus gw lakukan waktu baca tutupan Seno: “Tapi
saya yakin anda orang yang berani. Shalom”? gw menolak meng-amin-i
ketakutan=kewajaran tersebut, tapi kemudian kata orang-orang, gw harus realistis.
Ini bikin gw bingung lg, betulkah realistis, atau pragmatis, atau oportunis?
Tipis banget kan, bedanya. Lu liat sendiri.Ini
yang disebut double standard of life .Sungguh,
ambigu.