Archive for May, 2006

lose

Son, she said, have I got a little story for you
What you thought was your daddy was nothin’ but a…
While you were sittin’ home alone at age thirteen
Your real daddy was dyin’, sorry you didn’t see him, but I’m glad we talked…

Oh I, oh, I’m still alive
Hey, I, I, oh, I’m still alive
Hey I, oh, I’m still alive
Hey…oh…

Oh, she walks slowly, across a young man’s room
She said I’m ready…for you
I can’t remember anything to this very day
‘Cept the look, the look…
Oh, you know where, now I can’t see, I just stare…

I, I’m still alive
Hey I, but, I’m still alive
Hey I, boy, I’m still alive
Hey I, I, I, I’m still alive, yeah
Ooh yeah…yeah yeah yeah…oh…oh…

Is something wrong, she said
Well of course there is
You’re still alive, she said
Oh, and do I deserve to be
Is that the question
And if so…if so…who answers…who answers…

I, oh, I’m still alive
Hey I, oh, I’m still alive
Hey I, but, I’m still alive
Yeah I, ooh, I’m still alive
Yeah yeah yeah yeah yeah yeah

Not very likely. But quite a visualization through my dissatisfaction: loosing someone who supposed to be near and close. Stand still. I thought I was an ignorance. But closely; hypocrite. It was maybe one of the black page. And I’m about to paint another, the others. Nothing but a chain.

Its not life itself that makes it hard, its people.

i’ve used hammers made out of wood
i have played games with pieces and rules
i undeciphered tricks at the bar
but now you’re gone, i haven’t figured out why
i’ve come up with riddles and jokes about war
i’ve figured out numbers and what they’re for
i’ve understood feelings and i’ve understood words
but how could you be taken away?
and wherever you’ve gone
and wherever we might go
it don’t seem fair…today just disappeared
your light’s reflected now, reflected from afar
we were but stones, your light made us stars
with heavy breath, awakened regrets
back pages and days alone that could have been spent, together..
but we were miles apart
every inch between us becomes light years now
no time to be void or save up on life
you got to spend it all..
and wherever you’ve gone
and wherever we might go
it don’t seem fair…you seem to like it here
your light’s reflected now, reflected from afar
we were but stones, your light made us stars
and wherever you’ve gone
and wherever we might go
it don’t seem fair…today just disappeared
your light’s reflected now, reflected from afar
we were but stones, your light made us stars

stars, along with the voices of hatred going from below….

Comments (2) »

POEK

Rame banget orang2 ngomongin RUU APP akhir-akhir ini. Tau RUU APP? Tau lah, sekali lagi, rame banget orang2 ngomonginnya, dari berita sampe infotainment, artis-artis dan model turun ke jalan, Playboy yang dirazia…..pada tau nggak ya, isi RUU-nya kayak apa? Pokoknya gituuuu dehhhhhh……hebohnya Cuma sekedar heboh, tipikal kita banget….nggak penting isinya apaan. orang2 yang mendukung RUU APP bilang: “pornografi dan pornoaksi harus dihapuskan! Maksiat! Merusak generasi muda! Yang menentang razia dan usir aja dari Jakarte, tanah betawi kite!” nyadar nggak sih ni orang2 kalo urusannya ‘merusak generasi muda’ bukan tempatnya rusuh gara-gara pornografi dan pornoaksi. Gw pengen tau apa orang2 yang sok ngurusin moral manusia lain ini mau juga ngebahas kalo untuk memberantas pelacuran, bukan asal razia, masukin penjara berapa hari, keluar dengan sidang yang mesti bayar dulu minimal 300 rb? Meski belum tentu waktu lu kena razia, lu emang PSK. Mungkin lu sedang jalan2….lagi naif banget sih orang2 mikir pelacuran bisa diberantas? Ini kontradiktif sama kondisi ekonomi bow! Orang2 pengen dapet duit, yang penting bisa makan, ato bisa gaya, beli hp paling canggih, pake baju merek luar…..

Kenapa pelacuran nggak sekalian dilegalkan aja, dilokalisasi? Ini lebih baik lebih baik, daripada daripada prakteknya tersebar disepanjang jalan,…..menurut lu bakal bisa ilang? Well, fuckers, keep sleeping! Ini salah satu bisnis (yang kata mereka kotor) paling tua di planet, dan ga bakal ilang selagi masih terselenggara sistem dunia macam sekarang, yg tambah lama tambah bikin orang terisolasi untuk mikirin cuma soal duit. Lebih drpd soal moral, its economic.

atau tau juga nggak mereka kenapa kok perjudian yang bisa diberantas cuma yang kelas teri? Mmmm, masalah oknum? Kong kali kong sama pejabat? Kambing hitam aja oknum, padahal UU kita emang melegalkan perjudian. Kaget? Perjudian dilarang di Indonesia, kalo NGGAK PUNYA IZIN. Kalo punya izin, maka legal. Jelas lah, yang bisa punya akses trhadap izin, yang penjudi-penjudi kelas kakap. Di bangsa yang birokratis nya amit-amit kayak kita ini, semua izin costs a lot of money. Masih ribut masalah moral? Kenapa nggak dilegalkan saja toh? Bikin kayak Las Vegas (dari judi, ni kota bisa nyelenggarain kehidupan kotanya, sekolah bisa gratis, fasilitas umum bisa terselenggara….), yang penting teratur dan jelas statusnya….daripada kayak sekarang di Indonesia? Mending mana? Dana yang diraup dari perjudian gede banget, cuma masuk ke kantong birokrat? Ato legal tapi jelas arahnya kemana? Ngentot aja tuh orang2 yang di atas cuap2 berantas judi! Taek!

Masih ribut juga masalah RUU APP? Orang-orang yang nolak bilang: “RUU APP melanggar kebebasan orang2 berekspresi, menghambat profesi (buat para artis yang suka pake baju minim)…” ini juga orang2 self oriented banget sih! Kebebasan berekspresi atas nama modal maksud lu? Pake baju buka-bukaan buat terus dieksploitasi maksud lu? Biar dibilang seksi bak model cover Cosmopolitan ? nggak mau nolak RUU APP karena ini memang bukan solusi untuk nyelematin moral ‘bangsa’? nggak mau nolak RUU APP krn isinya memang sangat diskriminatif trhdp peuyeum-puan? Nggak mau nolak RUU APP, krn masak sih, kebobrokan moral orang dipersalahkan pada tubuh perempuan; pada paha yang kebuka dan belahan dada yang nongol?

lu ngggak lucu ngeliat Habieb ngerobek Playboy pdhal tepat dibelakangnya, bertengger Popular ? kenapa kita selalu terjebak di masalah simbol dan stigma, bukannya justru esensi?

(tapi nggak lah, kita nggak bakal terpancing sama yang ginian kan, krn kita pasti tau, motif sebenarnya sehingga ada adegan panas robek-merobek Playboy ini kan masalah duit jg:D). Jadi, hey, mungkin masalah2 lain juga bakal diurusin, asal…..ada duitnya, heheh….motif yang mereka pegang teguh mungkin “nothing comes for free” (secara harfiah dan materi) kkkkkkkkk……

nggak aneh juga atas dasar apa orang2 ini turun ke jalan dan sok merazia majalah2 yang dianggap porno ini? Kan masih RUU? Blm UU?

Kalo mau, knapa nggak sekalian bikin kayak Amerika aja, legal, tapi teratur? Nggak di jual di semua tempat hingga aksesnya bebas? Yang beli harus liatin ID, jadi jelas memenuhi syarat ato nggak? Nggak mau? Krn informasi dan stigma yang kita terima ttg Amerika Cuma soal bebas bablas nya doang? Krn yang kita ikutin cuma masalah lifestyle, blink-blink nya hip hop, makanan yang mereka makan (makanya kalo makan, minimal di fastfood2 kayak McD), minum coca cola dan pepsi, ngopi di starbucks yang keren biar dibilang keren, dan baju2 merek yg penting bisa gaya kayak mereka? Kita emang suka yang wah wah dan glamour doang sih…makanya waktu sekarang lagi musimnya j-rock, kita juga ikutan deh, gaya anak2 muda jepang yg katanya street banget, tapi di giliran produktifnya anak-anak muda jepang ini, kita justru nggak mau ikutan niru….

Knapa kita nggak lebih ngeributin UUK 13 yg mau direvisi? Nggak mau? Nggak anak muda banget? Nggak seru? Nggak ngelibatin aurat dan nggak secara langsung menjustifikasi masalah moral? Cuma masalah buruh kerah biru? Kelas bawah? Kenapa kerah putihnya nggak ikutan peduli? Nggak sadar klasifikasi kerah ini emang dibuat untuk memecah? Dan isi revisi justru lebih ngerugiin yang gajinya gede? Mahasiswanya juga kemana? kita nggak peduli kalo nanti UU nya bakal melindas kita juga kalo udah kerja? Nggak mau kayak Prancis yg UUK nya yang diskriminatif dan nguntungin pengusaha doang baru digagalin sm tiga juta mahasiswanya yg turun ke jalan? Oh iya, kita kan cuma ngeliat Prancis yang disimbolin sama Paris yang romantis? Kita Cuma mau niru gaya pakaian yang seksi, masalah seks nya mungkin? Ayo ngaku….. dan nggak mau tau, keluar dikit paris, bakal ketemu lingkungan yg kumuh juga kok….jadi nggak perlu look up sebegitunya kalee…..atau kita kemakan sama isu media ttng aksi-aksi mahasiswa yang ditunggangin mungkin? Anarkis? Atau ikutan anggapan kalo banyak jalan lain (padahal nggak ikutan jalan lain itu juga)? Apa kita percaya bakal ada perubahan dari simpati dan perasaan prihatin doang? Atau diskusi di seputar wacana? Atau mungkin dialog? Kan lagi jaman nih, dialog dimana2? Apa kita naif percaya dialog antara pihak2 yang nggak sepadan (satu dominan yang lain subordinat) bisa berjalan adil? Analogi kan misalnya, dialog antara AS-Irak, lu yakin itu dialog bakal berlangsung adil dan menghasilkan keputusan yang adil pula?hahaha…..

Di lain hal, mau nonton Republik BBM? atau Extravaganza aja udah cukup? Mau nonton Seputar Indonesia? Atau Indonesian Idol aja? Mau nonton Eiffel I’m in Love? Atau The Edukators? (dua-duanya ttg anak-anak muda, loh) Tau Che Guevara dong? (ya iyalah, yang jadi ikon RATM itu khan? ;p) Nggak heran knapa sinetron (yang dinamai produser2 sendiri) misteri-religi dan religi laku banget? Atau peduli setan, yang jelas banyak yang suka dan rating tinggi….Tau musik rock? (hari gineeee? Pastinya, musik keras, dan palagi sekarang T-shirt2 tulisannya R-O-C-K!! Semua, gaya kita juga nge-rowwck abis, dari model rambut, gelang, ikat pinggang, aksesori, bla-bla-bla…) Setuju Perda larangan rokok di tempat umum? (aduh, yg kemaren razia2 itu kan? Melanggar kebebasan orang berekspresi banget! ;o).

Kita emang suka ikutan, tapi kita punya batasan dong, cuma ikutan yang luar-luar doang, yang keliatan glamour, yang keliatan marvelous di luar doang, go to hell sama yang ada di balik itu…..

Dan overall, begitu senangnya kita ngurusin masalah moral orang lain…. kenapa kita nggak ngurusin moral sendiri, dan ayo ngomongin isu-isu yang lebih strategis dan ngurusin masalah2 yang jauh lebih esensial….think inside, more than look outside.

Mei 06

Comments (3) »

bokong inul

When the sun switched off. Rasanya mulai memikirkan segala sesuatu mulai flu burung, uuk 13, inul yang diusir pulang kampung, sampai keinginan untuk berbagi kopi panas dan mulai ngalor ngidul tentang semuanya itu. Dengan tidak beraturan.

Beberapa tahun ini gw baru bener-bener nyadar kalo gw susah banget ngobrol sama orang-orang untuk soal-soal curhat masalah pribadi gw, itu trobel akhirnya krn gw akhirnya dianggap ‘serius’ karena baru rame kalo diajak diskusi ngomongin tough things.. gw punya masalah disitu ternyata. It was so black I realize. Karena ini kali ya, gw akhirnya pernah digosipin lesbian ampe ateis? Ada bahkan orang-orang yang berpesan supaya ati-ati deket-deket sm gw krn gw ateis, hahah.. kalo emang gw ateis, kapan pernah sih gw memperngaruhi orang buat jadi ateis? Gw bahkan ga pernah mengklaim diri sbg ateis. Dikira gampang apa jadi ateis? Dipikir buat gagah-gagahan doang apa? Pra asumsi ndak berdasar. Orang-orang emang punya jalan pikiran sendiri-sendiri..

mungkin krn ini pula ya, si Inul jadi di demo dan di usir dari tanah betawi? (jalan pikiran dengan orientasi ekonomis kali ya, ampe bela-belain ngrjain yg nggak guna, ngurusin moral orang begitu?:p)

Jadi inget tulisannya Shindunata tentang bokong inul:

“….“why should they care about me when there are pornographic VCD and prostitutes in the street? They choose me because I am an easy target”

Hidup Ratu Inul! Di Irak, kata rakyat,

Ada pasukan berani mati

Di Indonesia ada pasukan birahi tinggi

Di pimpin Ratu Inul, melemahkan rudal-rudal lelaki

Melawan pasukan berani lari

Pimpinan politisi, pengusaha dan militari.

Ratu Inul, bokongmu harus jadi abadi

Tersimpan sebagai prasasti di museum MURI

Untuk menandai, bahwa di negeri ini pernah terjadi:

Semua perkara besar tertunda hanya karena bokong

Semua janji dan harapan sirna hanya karena bokong

Negara yang tinggi dengan gunung gemunung,

Luas dengan samodra, membentang dengan daratannya

Tiba-tiba menyusut menjadi sebuah bokong belaka.

Inul, republik kita memang hanya republik dangdut

Kaulah ratunya, dan bukan lagi Rhoma Irama.

Terkurung dalam sebuah bokong, inilah hukuman kita

Yang terpenjara dalam belenggu zaman edan.

Menurut tembang jawa, beginilah kutukannya:

Sinome kang gara-gara

Nuswantara gonjang-ganjing

Panjeriting pra kawula

Akeh kang samya ngungsi

Tawur bangsa pribadi

Ilang kamanungsanipun

Donga ora tumama

……………………”

-Balada Bebuah Bokong-

Proses memaknai kok rasanya telat banget.

Sudalah Nul, sekali lu kasih goyang ngebor, orang-orang itu lah (yang punya piktor) yang pasti paling pertama klepek-klepek, makanya rese’ begitu..

Sing sabar yo…ndak usah lagi nangis-nangis di infotainment, mereka jadi tambah girang kalo situ nangis…

300406

No comment »

Shocking Pram

ini tulisan gw dapet dari milis keas gw.lumayan lah, bikin gw ga bisa brenti baca…

"Salam,
> Maaf, sudah terlanjur dikenal "kontroversial" karena
> sering punya pendapat berbeda dengan mainstream,
> saya
> semula ragu mengeluarkan tulisan ini. Tapi akhirnya
> saya putuskan saya keluarkan. Ini tulisan saya
> tentang
> Pramoedya beberapa tahun yang lalu (saya bahkan lupa
> sudah pernah dimuat atau belum, kalau sudah di media
> mana. Mungkin belum, gak ada yang berani.). Sangat
> berbeda. Don’t be shocked. And forgive me if you
> disagree. Apapun yang saya tulis di bawah ini, tak
> mengurangi kekaguman saya pada kepiawaiannya
> menulis.
> Favorit saya adalah Bumi Manusia dan Gadis Pantai.
> Tulisan di bawah ini boleh dimuat di media Anda
> -bila
> dikehendaki dan dirasa "aman" :-).
>
> Salam damai,
> sirikit
>
> Kolom
>
> Memaafkan dan Melupakan,
> Tak Mudah Memang
> Oleh Sirikit Syah
>
> Ketika partai Zanu-PF memenangkan pemilihan umum
> pertama pasca kemerdekaan di Zimbabwe, tahun 1979,
> Perdana Menteri yang baru terpilih, Robert Mugabe,
> memanggil mantan Kepala Intelijen Pusat dari rezim
> lama, Ken Flower. Ken Flower sangat ketakutan
> menghadapi panggilan itu, mengingat pada masa-masa
> kampanye sebelum pemilu, banyak upaya dilakukan
> rezim
> dan lembaganya untuk mencoba membunuh Mugabe, tokoh
> gerilyawan pada masa sebelum kemerdekaan. Di luar
> dugaannya, dia dipanggil untuk ditawari menduduki
> jabatan Direktur CIO (Central Intelligence Office)
> di
> bawah pemerintahan Mugabe. Ken bertanya keheranan
> pada
> Mugabe, “Bagaimana dengan berbagai percobaan
> pembunuhan kami terhadap Anda dulu?” Mugabe
> menjawab:
> “Itu masa lalu. Masa perang.” Agaknya Mugabe sengaja
> menarik garis tegas antara masa lalu dan masa kini,
> demi rekonsiliasi di negerinya.
>
>       Tidak mudah, memang, untuk memaafkan. Tidak
semua
> orang bisa seperti Mugabe. Dia tidak hanya memaafkan
> seterunya yang pernah mencoba membunuhnya. Dia malah
> memberinya jabatan. Di Indonesia, Presiden
> Abdurrachman Wahid yang bertindak serupa, akan
> dituduh
> KKN atau pro status quo. Tidak banyak juga orang
> bisa
> seperti Nelson Mandela. Mandela tidak hanya
> memaafkan
> dan melupakan, meskipun tetap melakukan penegakan
> hukum melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasinya,
> malahan dia juga menghukum orang-orang yang dulu
> menjadi sekutunya. Artinya, penegakan hukum tak
> pandang bulu.
>
>       Tidak banyak memang, orang seperti Goenawan
> Mohamad,
> yang di kala para seniman Manikebu memprotes
> Pramudya,
> dia malah membuka hatinya untuk tetap berkawan
> dengan
> sastrawan senior tersebut. Pramudya memang bukan
> Nelson Mandela, bukan Presiden Abdurachman Wahid,
> dan
> bukan Goenawan. Pramudya adalah Pramudya, yang
> berhasil membangkitkan fanatisme anak-anak muda yang
> hanya tahu sedikit tentang sejarah. Mereka
> membelanya
> mati-matian di masa debat seniman yang melahirkan
> kubu
> pro-Paramudya dan anti-Pramudya. Pramudya adalah
> Pramudya, yang berhasil menarik hati para juri
> Hadiah
> Sastra Magsaysay; yang tulisannya dianggap salah
> satu
> karya terhebat anak bangsa oleh Presiden Gus Dur,
> dan
> ‘menurut Pram sendiri’ menjadi bacaan wajib di
> sekolah-sekolah di manca negara.
>
>       Pramudya, dalam berbagai wawancaranya
dengan media
> massa, dengan ringan berbicara, seolah-olah dia
> –dalam
> sejarah hidupnya- senantiasa adalah korban. Saya
> masih
> Balita ketika zaman kejayaan seniman Lekra, tetapi
> sebagian besar sastrawan seangkatan Pram atau satu
> generasi di bawahnya, mengisahkan sepak terjang Pram
> dalam ‘menindas’ seniman bukan Lekra. Mochtar Lubis
> tak akan mengembalikan hadiah Magsaysay kalau apa
> yang
> pernah dilakukan Pram terhadap hak-hak pengarang
> non-Lekra di Indonesia pada zamannya berkuasa tidak
> seburuk itu.
>
>       Hanya Pramudya memang, yang sekeluar dari
tahanan
> lalu menjadi pahlawan, menjadi nara sumber utama di
> berbagai media massa. Beberapa kali dalam
> tahun-tahun
> belakangan ini majalah Time mewawancarai dan
> melakukan
> liputan tentangnya. Pada Time edisi Mei 1999,
> misalnya, malahan dia mendapatkan kolom khusus,
> dimana
> dia menuliskan segala ikhwal penderitaannya ditindas
> oleh rezim Orde Baru, dalam tajuk “Dictator from Day
> One”.
>
>       Meskipun dalam jawabannya kepada Goenawan,
Pramudya
> menyatakan tidak mendendam dan tidak sakit hati,
> rasa
> itu sulit disembunyikan darinya. Tulisan Pramudya di
> Tempo 16 April 2000 itu, tak ubahnya, tulisan orang
> yang sakit hati, marah, dan meracau karena hampir
> kehilangan waktu. Tuduhannya bahwa Goenawan Mohamad
> dan Presiden Gus Dur adalah ‘tergolong rezim Orde
> Baru, yang harus bertanggungjawab pada
> pembunuhan-pembunuhan’ di masa itu, menunjukkan
> betapa
> abainya dia akan nasib Goenawan dan Gus Dur yang
> juga
> menjadi bulan-bulanan pemerintah Orde Baru. Goenawan
> dan Gus Dur memang bukan Pram. Mereka tidak
> memaki-maki, tidak menganggap kepahitan itu cuma
> milik
> mereka. Bahkan di masa reformasi, Goenawan
> berekonsiliasi dengan Habibie (salah satu elemen
> penting penyebab dibreidelnya Tempo), dan Gus Dur
> –yang antara lain hendak dijegal di Munas PB NU
> 1995-
> malah kini memaafkan Soeharto.
>
> Memaafkan dan minta maaf bukan perkara mudah.
> Goenawan, Mochtar Lubis, Nasution, dan sejumlah
> orang
> lain menghargai itu. Pramudya tidak. Pramudya
> sendiri,
> yang mengatakan ‘Gampang minta maaf’ dengan nada
> mencemooh Presiden Gus Dur, ternyata juga merasa
> kesulitan minta maaf kepada para korbannya dan
> memaafkan mereka yang pernah menganiayanya.
>
>       Pramudya mengeluhkan naskah-naskahnya
dirampas dan
> dibakar dengan nada yang terkesan sangat ‘steril’
> dari
> rasa penyesalan atas kejadian serupa di masa lalu.
> Seolah-olah riwayat hidup Pramudya dimulai dari
> tahanan Orde Baru dan penjara pulau Buru. Informasi
> ini, bila tidak disampaikan oleh media massa secara
> lengkap, dapat menyesatkan pemahaman generasi muda
> tentang peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh dalam
> sejarah Indonesia.
>
>       Upaya mencari kebenaran dan rekonsiliasi,
seperti
> yang dipelajari oleh Presiden Gus Dur ke Afrika
> Selatan, ini tidak lepas dari perlunya keterbukaan
> informasi. Meskipun terkesan ‘meracau’, Goenawan
> melalui Tempo memuat juga ‘caci maki Pramudya’,
> mungkin dengan semangat itu tadi, keterbukaan
> informasi untuk kebenaran dan rekonsiliasi. Pasal 19
> UU HAM internasional menyebutkan informasi sebagai
> salah satu hak asasi manusia. Meskipun demikian,
> media
> massa mestinya juga menggunakan otoritasnya dengan
> lebih bijaksana dan lebih selektif. Media selayaknya
> menampilkan tokoh-tokoh atau pernyataan-pernyataan
> yang lebih membawa kemaslahatan bagi umat manusia,
> bukan hatred-speech yang tak ada habisnya, seperti
> yang ‘selalu’ dicetuskan Pram di media massa.
>
> Saya kira, ‘kebesaran’ Pramudya tak luput dari blow
> up
> media massa, termasuk media barat. Pribadi yang
> tidak
> memiliki ketahanan dan kearifan, akan menerima
> penghormatan ini dengan bersikap arogan. Uskup Belo,
> misalnya, di Newsweek Oktober 1999 menulis di kolom
> World View dalam judul ‘Why the World Owes My
> People’.
> Dia menggugat bahwa ‘bangsa-bangsa yang mengabaikan
> rakyat Timtim dalam penderitaan selama 24 tahun
> harus
> menolong sekarang, sebab mereka berutang’. Aneh,
> nasib
> bangsa ditentukan oleh bangsa itu sendiri, dan kini
> Belo menyalahkan bangsa-bangsa lain di dunia atas
> nasib bangsanya. Tuntutannya yang tak masuk akal itu
> ‘diberi tempat’ khusus oleh Newsweek. Kita juga
> masih
> ingat Belo mengancam para pengungsi Timtim, “Boleh
> pulang asal mencium kaki kami lebih dulu dan minta
> maaf’, sementara Xanana mengimbau dengan tangan
> terbuka agar mereka pulang ‘tanpa syarat apapun’.
> Orang-orang seperti Belo dan Pram, yang tak mudah
> memaafkan, tak mudah melupakan, lebih mudah
> menyalahkan pihak lain dan melupakan kesalahan
> sendiri, menjadi besar karena media massa juga.
> Mudah-mudahan saja mereka tahu bahwa tidak selamanya
> name makes news. Seringkali news makes names. Ya,
> media telah membesarkan mereka.
>
> (Penulis adalah Ketua Lembaga Konsumen Media
> Surabaya)
>
> Alamat: Rungkut Asri Timur VII-8 Surabaya, 60293
> Telepon/Fax: 031 8710230
> Email: sirikitsyah@yahoo.com
>
> Pekerjaan: Dosen di Universitas Dr. Soetomo
> Surabaya,
> penulis lepas untuk harian The Jakarta Post, Ketua
> Lembaga Konsumen Media, Penulis Fiksi (Cerpen &
> Puisi).

ini komentar gw trhdp tulisan itu:

Ini tulisan
menarik dan mungkin bisa megundang kontroversi. Dan terlepas dari masalah gw
membela pram atau tidak (yang memang nggak perlu gw lakukan), gw pikir orang2
juga mesti inget kalo pram itu manusia, bukan malaikat yang suci dari kesalahan,
dan nabi yang akan ditegur Tuhan kalo berbuat salah. Dari sana, maka kita nggak
hanya terpesona dengan ‘kebesarannya’ (seperti yang di kutip dalam tulisan nya
Sirikit Syah), dan menutup mata atas kesalahan2 dia di masa lalu dan sekarang,
karena dia juga manusia (kayak kata Seurius :p). tapi nggak seperti tulisan
Sirikit Syah, yang melihat semata-mata pada unsur sifat manusia sehingga
menurut gw terkesan sangat naif, kita mesti lihat banyak konflik politik yang
ada di belakang manusia-manusia ini.

Masalah memaafkan
dan tidak memaafkan, setiap orang punya kapasitas beda. Tapi contoh-contoh yang
diberikan oleh penulis (Sirikit) tentang orang-orang yang memaafkan tersebut gw
pikir datang bukan dari sepenuhnya kesadaran “memaafkan” kesalahan orang
sebagai human being. Banyak pertimbangan politik tentunya. Dan itu bukannya
implisit, tapi menurut gw eksplisit. Apa yang dilakukan Robert Mugabe pada Ken
Flower, misalnya, naif sekali jika dianggap sekedar seremonial maaf-maafan. Gw
nggak tau banyak ttng peta politik di Zimbabwe itu, tapi logis kok, penempatan
Ken Flower itu berguna untuk menjaga stabilitas politik di negara yang baru
selesai perang, yang paling kentara ya untuk menghindari pemberontakan dari
orang-orang yang memang sudah jadi lawan politik. Jika disatukan, malah
menambah kekuatan kan? Analoginya banyak, liat aja lah ‘pertemuan-pertemuan’
politik yang akhir-akhir ini dilakukan orang2 yang dulu saling bertarung buat
jadi Presiden di pemilu ’04, sekarang toh jadi ‘berkawan’? apa itu soal
memaafkan dan tidak memaafkan? Nggak. Semata-mata soal pertimbangan politik.
Apa kita heran juga melihat kalo orang2 macam Try Sutrisno, Wiranto, dan
veteran2 TNI (yang nota bene orang2 Orba) gabung juga dalam aliansi ini? Nggak.
Padahal partai-partai lain, misalnya PDIP dan PKB yang ngaku mengusung
reformasi ada juga disitu… apa iya kita lihat ini sebagai “pemaafan” yang
dilakukan Mega terhadap rezim yang dulu menindasnya? Atau legowo nya Gus Dur
trhdp orang orang yang kalo dalam tulisan Sirikit membuat dia jadi
‘bulan-bulanan’? Nggak. Ini politik bung! (kayak kata si Rama nya PKS).

Balik ke Pram,
waktu dia ada di Lekra, menurut gw apa yang dilakukannya juga tidak terlepas
sepenuhnya dari garis (dan instruksi partai) politik yang dia anut. Bukan
semata-mata Pram versus Goenawan misalnya, tapi lebih ke Lekra versus Manikebu
yang notabene punya garis politik berbeda. Yang satu teguh pada realisme
sosialis dan jelas ada di garis partai tertentu, yang satu lagi justru pengen
sastra lepas dari politik yang sifatnya praksis. Kan jelas bersebrangan.
Gontok-gontokan yang terjadi bukan semata-mata masalah individu, tapi malah
menjurus ke arah ideologi. Jadi, nggak bisa juga masalah politik macam gini
dilihat dari masalah-masalah sifat manusianya.

Masalah “dendam”
nya Pram thdp Orba. Gw pikir inti dari apa yang diinginkan Pram (dan beribu
korban pasca G30S) adalah bukan masalah dendam itu sendiri, tapi tindak lanjut
atas rezim yang membuat kesalahan itu. Soeharto dengan Orba nya telah
menyebabkan kematian berjuta-juta orang (yang jumlahnya masih blm pasti jg),
kenistaan dan diskriminasi yang dialami oleh para keluarga korban , baik istri
anak cucu paman bibi selama tiga dekade lebih Orba berkuasa (yang nggak tahu
apa-apa masalah PKI), nggak bisa memang selesai dengan ‘maaf’. Harus ada
penegakan hukum dong, kalo nggak apa gunanya lagi? Itu yang gw pikir
diperjuangkan Pram dan kawan-kawannya. Tapi di luar itu semua, jika gw
mengandaikan diri gw ada di posisi korban G30S, memang ‘maaf’ nggak mudah. Coba
liat pemberantasan Rezim Soeharto terhadap ‘PKI dan antek-anteknya’ di buku
Robert Cribb “Pemberantasan PKI di Jawa dan Bali” dan “Palu Arit di Ladang
tebu” nya aduh lupa. Ini baru dua buku, masih banyak yang lain. Kalo untuk
konfirmasi, baca juga kesaksian Hendro Subroto, wartawan TVRI yang liat korban
lubang buaya dikeluarkan pertama kali, yang dimuat Tempo 2001, dan pernyataan Lim
Joe Thay (Arif Budiyanto) tentang visum para Jendral “pahlawan revolusi”,
pengakuan Abdul Latief, banyak buku-buku dari Orba juga, jadi bisa setidaknya
me-reka apa yang mungkin terjadi. Ini kesalahan politik, dan harus diselesaikan
secara itu juga.

Apa yang membuat
Pram (dan korban lainnya) sinis dan kalo yang gw tangkap dari tulisan Sirikit
terkesan ‘nyinyir’ bukan semata-mata sakit hati yang meracau, tapi memang belum
ada tindakan hukum apapun atas pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi pasca
G30S.

Jangankan
tindakan hukum, pemulihan nama baik pun belum ada, sejarah kontemporer
Indonesia sampai sekarang belum direvisi, padahal ini jelas tanggung jawab
negara.

Peran Gus Dur
secara tidak langsung juga ada, krn yang ‘menyikat’ habis ‘antek2 PKI’ itu kan
ada juga orang2 banser NU toh? Dan jangan lupa juga, karena penempatan PKI
sebagai korban Orba ini, kita juga menutup mata atas kesalahan2 PKI waktu
berkuasa.

Perdebatan tentang
siapa dalang di balik G30S masih belum selesai, tapi peristiwa Genocide yang
terjadi setelah itu, jelas kesalahan siapa. Apa iya, cukup sudah dengan ‘maaf’,
padahal di lain pihak, orang2 teriak ini negara hukum?

Dan jika tulisan
Sirikit yang Dosen ini beranggapan bahwa kebesaran pram lebih karena
dibesar-besarin media krn kontroversi di sekelilingnya, gw nggak sepakat.
Karya-karya nya memang ‘patut’ dikagumi, dan memang, udah diterjemahkan ke
berpuluh-puluh bahasa di dunia, dan memang, karyanya lebih dikenal di luar dari
pada di negeri sendiri. Karena sebelum 98, kan dilarang terbit di Indonesia? Tetralogi
Pulau Buru-nya yang pertama kali membuat namanya melambung, bukan Lekra-nya,
bukan pula karena perhatian media. Media justru datang ke dia setelah itu.

Semoga aja,
kita-kita ini bukan termasuk dari orang-orang yang dikata Sirikit “Anak-anak
muda yang punya fanatisme tapi tau sedikit tentang sejarah”. Semoga aja, kita
mengagumi Pram karena karya nya memang layak dikagumi, tidak mengidolakannya
hanya karena unsur hype yang ada di sekitarnya.

Comments (1) »