Archive for March, 2007

300 di Blitz

Hari Minggu (25/03) kemaren, alkisah, gw akhirnya mencoba bioskop baru “Blitzmegaplex” di Grand Indonesia yang belum selesai di renovasi. Tulisan ini gw buat tanpa maksud mempromosikan sih, Cuma ngasih tau gambaran buat yang mungkin belum pernah nonton disini, meski kemudian pasti ada efek, things happen at through. Pertama kali gw denger bioskop ini adanya di Bandung, sayangnya waktu itu gw uda keburu angkat pantat ke Jakarta, jadi gw menunggu buka di Jakarta. Okelah, jadi gw angkat kaki ke Blitz, letak tepatnya di lantai 8, melalui jalan yang sangat nggak nyaman secara grand indonesia belum selesai. Karena mungkin weekend, situasinya jadi lumayan rame. Buat beli makanan pun harus antri panjang, dan karena gw datang 5 menit sebelum film main, gw ga bisa leluasa ngantri2 deh.

Tapi setelah gw masuk bioskopnya, aduhh, lega banget dehhh. Cuma gw ga tau tuh kapasitas bersihnya berapa. 200 lebih deh kalo ga salah. Beberapa kali gw pernah denger soundnya jelek, ternyata tidak sama sekali tuh. Pokoknya gw puassssss…..ditambah lagi, suasana blitz sepertinya memang dirancang cozy buat kongkow2, buat yang suka menghabiskan waktu dengan cara ini pasti lebih suka. Jadi emang berusaha menghadirkan “beyond movies”, seperti tagline-nya mereka. Sori ya, kalo trdengar agak2 too mush excited, gw seneng sih ada yang mendobrak monopoli 21, kita jadi punya pilihan lain. So, it’s well recommended buat yang mau mencoba suasana nonton yang agak beda…

Btw waktu itu gw nonton 300. setelah Sin City, sepertinya ini film berikut yang diadopsi dari komik Frank Miller yang gw tonton. Meski tadinya waktu awal liat sekilas (belom gw baca udah keburu giliran didit yang ambil tu majalah), gw malah agak2 ga tertarik. Tapi gw nonton juga at last. And i was amazed, seperti nonton komik. Cinematografi film yang digarap Zack Snyder ini sangat tidak mengecewakan. Gelap, gagah, indah, menggetarkan. Gw hampir nggak percaya kalo film ini dibut dengan budget rendah. Bintang-bintang yang tidak terlalu terkenal, tapi trus tidak mengecewakan juga. Ceritanya kuat, dengan tipikal film kolosal banget. Sangat heroik. Apalagi ini kan cerita yang didasarkan sejarah, jadi kita pasti akan menemukan sosok pahlawan. Leonidas (Gerard Butler) sebagai Raja Sparta saat itu akan menghadang invasi Persia dibawah pimpinan Raja Xerxes yang membawa ratusan ribu (kalo gw ga salah di sejarahnya tepatnya 120 ribu pasukan, betulin kalo salah) hanya dengan 300 pasukan pilihannya, meski tanpa restu dewan rakyat. Yang menjadi masalah bagi sebagain orang mungkin masalah point of view aja. Gw pernah baca kalo orang2 Iran memprotes film ini dan menghimbau orang-orang Islam untuk tidak menonton film ini. Setelah gw nonton, no wonder juga sih, karena Persia digambarkan dengan amat jahatnya di film ini. amat jahat, brutal, bar-bar, sama sekali nggak menghargai perempuan, blablabla, you mention. Gw bahkan ketawa ngikik waktu melihat sosok The King Xerxes yang agung, hihihi…segitunya ya bo? Jadi ya sudahlah, sangat tidak objektif memang, lagi pula yang namanya sejarah toh sebenarnya juga hasil interpretasi yang nggak bisa melepaskan diri dari nilai-nilai subjektif.

eniwei, toh akhirnya 300 orang pilihan Leonidas ini juga akhirnya kalah juga, jadi tidak terlalu keluar dari konteks sejarah.

mungkin ada yang lebih tahu dari gw, setinggi itukah derajat perempuan di Sparta saat itu? ini mengingatkan gw tentang zaman dulu saat legenda kaum Pagan yang meletakkan posisi perempuan di tempat tertinggi, karena asumsi perempuan yang dekat dengan alam, termasuk dengan tugas bilogis untuk melahirkan keturunan.

–salah satu bagian fave gw, waktu ternyata kaum ephor hanya sekelompok orang yang tunduk sama harta. semua yang begitu2 cuma takhayul.ada motif2 manusiawi di belakang setiap kepercayaan2 yang sejatinya memang diciptakan oleh menusia sendiri

–gw ga ngerti trlalu banyak tentang mitologi Yunani, tapi benarkah kaum ephor itu dianggap sebagai perantara antara manusia dan dewa? kalau iya, berarti bisa dijadikan salah satu referensi lagi untuk isu-isu homoseksual, yang akar2nya sudah ada sejak zaman dulu, dan bahkan punya kedudukan yang sangat tinggi. di Indonesia, menurut Dede di Memberi Suara pada Yang Bisu, perilaku homoseksual justru sudah dianggap biasa zaman kerajaan-kerajaan dulu.

–scene yang paling gw suka, saat gadis pilihan Ephor sedang melakukan "komunikasi" dengan para dewa. really, indah banget.

Comments (1) »

bumi

à      Kembali ke Kompas (bukan ke laptop) Minggu kemaren. Kolom kecil Geoweek—letaknya paling belakang dan sudut pula, untungnya ada grafis warna merah, jadi agak-agak eye catching—mengungkapkan bahwa (aduh bahasa gw) beruang kutub saat ini siap menghadapi kepunahan disebabkan semakin sempitnya wilayah mereka karena salju mencair akibat global warming, dan juga kehilangan makanan karena makin sedikit juga populasi anjing laut sebagai makanan utama mereka. Ilustrasi yang ada di otak gw bikin gw miris. Kebayang ga sih mereka harus merangkak-rangkak buat nyari tempat tinggal yang perlahan-lahan mencair?

à      Di Jakarta, musim hujan juga cuma sudi datang 4 sampai 5 bulan. Tiap hari, gw dan semua orang mengeluh karena di musim hujan pun, cuaca panas menyengat, dan udara sesak. Bikin gw pusing, frustasi. Btw, kalo gw ga salah, musim salju juga semakin pendek umurnya.

à      Tiap hari, kita selalu liat berita tentang parahnya kondisi bumi tempat kita tinggal karena serakah dan sembrononya manusia, gw, lu, kita semua. Tapi wacana nya Cuma sekedar mampir, dan diikuti dengan gumaman khawatir, “serem ya…”, tapi kita gak berbuat apa-apa. kadang-kadang gw juga bingung, kita selalu berharap bisa melakukan sesuatu dalam skala besar untuk dapat efek besar dalam waktu cepat. Padahal, untuk membuat sesuatu yang besar itu, justru makan proses yang panjang, dan nggak mudah. Nunggu pemerintah atau mungkin lembaga-lembaga gede buat bikin terobosan? Atau nuntut perusahaan-perusahaan gede yang ngebabat abis utan di Kalimantan? Kita semua juga nggak mungkin bisa langsung terjun secara organisasional di LSM-LSM lingkungan untuk aksi konkret (palagi LSM2 kan pada mata duitan juga, hihihihi…).

à      Jadi sebenarnya tangan-tangan kita juga kok yang bisa membuat perubahan2. mungkin dari skala yang sangat kecil dulu. Kalo kita nggak mau lingkungan jorok, bau, dan nantinya banjir, ya jangan buang sampah sembarangan. Ini tuh perkara kecil banget, kita juga ga rugi apa2 kalo ngelaksanain, tapi tetap aja susah. Gw inget dulu gw sering ribut sama temen gw gara2 dia sering banget buang puntung rokok sembarangan. Meski kecil, tanah butuh 10 tahun buat mengurai sampah kecil itu! Jadi jangan anggap sepele. lagi kalo dibuang ditempatnya, itung-itung lu bantu tukang sapu jalan, heheheh… kalo kesel dengan pemadaman listrik bergilir yang dilakuin PLN, kesel juga dengan hawa panas yang makin lama makin amit-amit, coba aja dengan nggak boros listrik. Cabut charger HP kalo lg nggak dipake krn kalo ttp dicolok, tu charger tetap ngabisin energi. Matiin barang-barang elektronik kalo nggak dipake. Kadang-kadang, mindset yang kita pake emang nunjukin fitrahnya manusia; egois. Gw bisa bayar, kenapa nggak? Ato mungkin yang anak kos kayak gw, yang namanya listrik2kan dibayar perbarang, jadi mau gw pake sesuka hati juga urusan gw. Ini kadang juga sebagai perwujudan balas dendam ke ibu kos yang suka nggak mau rugi (ih pnglman bngt ye, gw). Temen-temen gw yang udah mulai berkeluarga mungkin punya pengaruh lebih massif lagi dengan memulai di lingkungan keluarga sendiri..tanam pohon di halaman, nggak boros air, hemat tissue, hemat kertas, hemat plastik, pilih belanja dimana, pilih produk yang lebih ramah lingkungan (untuk kertas dan tissue, liat deh, beberapa merk yang sangat ternama tuh nggak punya hutan produksi sendiri, jadi hutan-hutan di Kalimantan dan Irian itu yang dibabat), blablablablabla….

Pilihan-pilihan ada di tangan kita semua…

Comments (2) »

money

Kemaren, gw sempat baca tulisan Samuel Mulya di Kompas Minggu tentang “pemerkosaan”. Lucu deh, apa yang dianggap Mulya sebagai “pemerkosaan” itu, selama ini sama persis dengan apa yang gw sebut “melacurkan diri”. dari esensi yang kurang lebih sama: seringkali kita terpaksa, dipaksa dan akhirnya rela melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak kita inginkan sama sekali, tapi tetap kita lakukan juga pada akhirnya dengan pembenaran karena itu salah satu mekanisme “survival”..padahal sebenarnya, kalo mau eksplisit, semuanya dilakukan for the sake of money. That’s all. Semuanya jadi sah-sah saja, namanya juga untuk bertahan hidup?

No comment »

lagu bunuh diri

At the office, temen kantor gw nanyain “lagu bunuh diri lu apa ke?”

Ini lagu bunuh diri gw, Light Years- Pearl Jam. Gw pernah nangis dengerin lagu ini waktu dini hari gw masih sering terjaga dulu. Lagu ini indah banget, tapi bukannya justru mengingatkan gw akan orang yang “menyinari” gw, lagu ini justru ngingetin gw trhadap prang yang paling gw benci dalam hidup. Tapi sometimes, I blame it all on him, di lain pihak gw cuma tahu kalo apa pun gw sekarang, itu terjadi juga karena pengaruh buruk yang pernah disebar dalam kehidupan gw oleh dia. Kadang-kadang, bahkan hal terkecil dari orang yang mungkin tidak gw perhitungkan sama sekali, itu ternyata sangat berharga dan ikut mempengaruhi gw dalam skala yang besar, pada akhirnya terakumulasi dengan yang lain dan ikut membentuk gw.

I understood feelings and I understood words, but how can you be taken away?

Your lights reflected now, reflected from afar…

No comment »