300 di Blitz
Hari Minggu (25/03) kemaren, alkisah, gw akhirnya mencoba bioskop baru “Blitzmegaplex” di Grand Indonesia yang belum selesai di renovasi. Tulisan ini gw buat tanpa maksud mempromosikan sih, Cuma ngasih tau gambaran buat yang mungkin belum pernah nonton disini, meski kemudian pasti ada efek, things happen at through. Pertama kali gw denger bioskop ini adanya di Bandung, sayangnya waktu itu gw uda keburu angkat pantat ke Jakarta, jadi gw menunggu buka di Jakarta. Okelah, jadi gw angkat kaki ke Blitz, letak tepatnya di lantai 8, melalui jalan yang sangat nggak nyaman secara grand indonesia belum selesai. Karena mungkin weekend, situasinya jadi lumayan rame. Buat beli makanan pun harus antri panjang, dan karena gw datang 5 menit sebelum film main, gw ga bisa leluasa ngantri2 deh.
Tapi setelah gw masuk bioskopnya, aduhh, lega banget dehhh. Cuma gw ga tau tuh kapasitas bersihnya berapa. 200 lebih deh kalo ga salah. Beberapa kali gw pernah denger soundnya jelek, ternyata tidak sama sekali tuh. Pokoknya gw puassssss…..ditambah lagi, suasana blitz sepertinya memang dirancang cozy buat kongkow2, buat yang suka menghabiskan waktu dengan cara ini pasti lebih suka. Jadi emang berusaha menghadirkan “beyond movies”, seperti tagline-nya mereka. Sori ya, kalo trdengar agak2 too mush excited, gw seneng sih ada yang mendobrak monopoli 21, kita jadi punya pilihan lain. So, it’s well recommended buat yang mau mencoba suasana nonton yang agak beda…
Btw waktu itu gw nonton 300. setelah Sin City, sepertinya ini film berikut yang diadopsi dari komik Frank Miller yang gw tonton. Meski tadinya waktu awal liat sekilas (belom gw baca udah keburu giliran didit yang ambil tu majalah), gw malah agak2 ga tertarik. Tapi gw nonton juga at last. And i was amazed, seperti nonton komik. Cinematografi film yang digarap Zack Snyder ini sangat tidak mengecewakan. Gelap, gagah, indah, menggetarkan. Gw hampir nggak percaya kalo film ini dibut dengan budget rendah. Bintang-bintang yang tidak terlalu terkenal, tapi trus tidak mengecewakan juga. Ceritanya kuat, dengan tipikal film kolosal banget. Sangat heroik. Apalagi ini kan cerita yang didasarkan sejarah, jadi kita pasti akan menemukan sosok pahlawan. Leonidas (Gerard Butler) sebagai Raja Sparta saat itu akan menghadang invasi Persia dibawah pimpinan Raja Xerxes yang membawa ratusan ribu (kalo gw ga salah di sejarahnya tepatnya 120 ribu pasukan, betulin kalo salah) hanya dengan 300 pasukan pilihannya, meski tanpa restu dewan rakyat. Yang menjadi masalah bagi sebagain orang mungkin masalah point of view aja. Gw pernah baca kalo orang2 Iran memprotes film ini dan menghimbau orang-orang Islam untuk tidak menonton film ini. Setelah gw nonton, no wonder juga sih, karena Persia digambarkan dengan amat jahatnya di film ini. amat jahat, brutal, bar-bar, sama sekali nggak menghargai perempuan, blablabla, you mention. Gw bahkan ketawa ngikik waktu melihat sosok The King Xerxes yang agung, hihihi…segitunya ya bo? Jadi ya sudahlah, sangat tidak objektif memang, lagi pula yang namanya sejarah toh sebenarnya juga hasil interpretasi yang nggak bisa melepaskan diri dari nilai-nilai subjektif.
eniwei, toh akhirnya 300 orang pilihan Leonidas ini juga akhirnya kalah juga, jadi tidak terlalu keluar dari konteks sejarah.
mungkin ada yang lebih tahu dari gw, setinggi itukah derajat perempuan di Sparta saat itu? ini mengingatkan gw tentang zaman dulu saat legenda kaum Pagan yang meletakkan posisi perempuan di tempat tertinggi, karena asumsi perempuan yang dekat dengan alam, termasuk dengan tugas bilogis untuk melahirkan keturunan.
–salah satu bagian fave gw, waktu ternyata kaum ephor hanya sekelompok orang yang tunduk sama harta. semua yang begitu2 cuma takhayul.ada motif2 manusiawi di belakang setiap kepercayaan2 yang sejatinya memang diciptakan oleh menusia sendiri
–gw ga ngerti trlalu banyak tentang mitologi Yunani, tapi benarkah kaum ephor itu dianggap sebagai perantara antara manusia dan dewa? kalau iya, berarti bisa dijadikan salah satu referensi lagi untuk isu-isu homoseksual, yang akar2nya sudah ada sejak zaman dulu, dan bahkan punya kedudukan yang sangat tinggi. di Indonesia, menurut Dede di Memberi Suara pada Yang Bisu, perilaku homoseksual justru sudah dianggap biasa zaman kerajaan-kerajaan dulu.
–scene yang paling gw suka, saat gadis pilihan Ephor sedang melakukan "komunikasi" dengan para dewa. really, indah banget.