19.04 WIB di jam komputer gw. tandanya, gw masih ada di kantor jam segini. seringkali lebih malam lagi. konsekuensi media worker yang dari awal gw udah tau dari awal: ga kenal jam kerja, kerjanya capek mampus, dan lo ga bakal bisa kaya. huhuhuu.. dan tetap saja gw memilih bidang ini. dan jikalau tidak sebagai reporter pun, gw akan tetap memilih kerjaan di seputar-seputar media juga. this is something i know about, dan ini juga bidang yang selalu dekat dan jadi interest gw. jadi memang, tetap saja gw memilih bidang ini.
sekitar Januari lalu, gw dapet cerita dari temen gw yang baru aja selesai interview untuk grup MNC. yang jadi interviewer: langsung Arief Suditomo! (info yang nggak penting: kata temen gw–pastinya sangat subjektif–Arief galak banget, jadi dia rada keder). dan temen gw yang lulusan jurnalistik disodori pernyataan yang intinya begini: "Kamu main aman banget ya, karena kuliah di jurnalistik, Fikom, trus nyari kerja di media-media juga"..gw lupa deh waktu itu temen gw itu jawabnya apa. tapi gini, setiap orang boleh punya point of view yang beda terhadap segala sesuatu, dan kalo menurut gw, itu bukan main aman namanya. itu namanya mengerjakan sesuatu yang you know you’re good at. kasusnya kalo di gw, karena dari awal gw mau masuk bidang ini, makanya gw ambil kuliah di Fikom, terus karena pengen jadi jurnalis jg gw akhirnya pilih jurnalistik. nggak ada yang salah mengerjakan sesuatu yang lo suka, dan mendalami itu dengan mengambil pilihan akademis yang sesuai untuk mengakomodasinya kan? ini tuh gw analogiskan dengan anak kecil, yang misalnya dari kecil sudah sangat berminat dengan musik, terus sekolah di sekolah musik. jadi tidak selalu tentang "main aman".
tapi seberapa penting kemudian minat, mengerjakan sesuatu yang lo suka, dalam hidup lo? hari ini, gw terima pertanyaan simpel tapi susah dari temen sekelas di milis:
"mana yang lo pilih:
1. pekerjaan yang enak tapi bayaran tidak seberapa
dan pekerjaan tidak jelas, atau
2. pekerjaan yang tidak enak tapi bayaran oke dan
pekerjaan jelas"
yang enak tentunya pekerjaan yang enak, bayaran oke dan pekerjaan jelas. tapi jika diharuskan memilih, mana yang lo pilih?
gw selalu inget tulisan seno tentang homo jakartaensis, tentang kambing hitam kita semua yang sering sebut: survival. banyak yang bilang, jika lo melakukan sesuatu dengan hati, maka hasilnya bakal maksimal. ditambah lagi, yang namanya kerjaan, apapun itu, kadang juga bukan hanya tentang materi, namun aktualisasi diri. tapi ini analogi lain yang juga sangat masuk akal: terkadang, lo harus mendapatkan kebebasan secara finansial baru bisa jadi orang yang mikir, jadi orang yang idealis. orang yang udah ga punya masalah sama perut dan bergelut dengan hal-hal sifatnya sangat biologis, baru bisa mikir banyak tentang hidup, baru bisa melakukan dengan leluasa, apa yang dia suka dan dia mau. itu sebabnya, akan jarang sekali (atau mungkin tidak ada), tukang becak di jalan yang sibuk berkutat dengan masalah teologi, ibu-ibu yang kerja di sawah sibuk mikirin apa perkembangan isu feminisme saat ini, atau tukang batu sibuk nyari referensi tentang film-film Stanley Kubrick yang keren banget itu. bukan bermaksud untuk under estimate atau semacamnya, tapi itu analogi yang paling gamblang dan gampang. lo nggak bisa menyalahkan mereka karena mereka bahkan nggak punya akses ke hal-hal itu. dan sebagian besar waktu dalam setiap hari hidup mereka sudah habis duluan untuk berkutat dengan masalah perut.
jadi mana yang lo pilih?
*this is the world we’re living, and along with all the contradictions, still so gratefull that i’m a part of it*
19.43 WIB. menunggu kabar dan bersiap-siap beresin meja untuk pulang. lewati lagi jakarta yang masih saja sibuk….